Bertemu Burhan: Berkarya dan Berdaya Dari Desa

Bertemu Burhan: Berkarya dan Berdaya Dari Desa
Bertemu Burhan: Berkarya dan Berdaya Dari Desa


Melihat zaman milenial saat ini, banyak anak muda yang memilih untuk bekerja di perkantoran ataupun terjun di industri digital dan kreatif lainnya. Menjadi pegawai kantoran dan menjadi seorang vlogger atau streamer dianggap memiliki daya tariknya sendiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dunia pertanian pun jarang dilirik oleh generasi muda sebab sering dianggap tidak merepresentasikan prospek karir yang menjanjikan. Padahal jika dilihat lebih jauh pendapatan dari dunia pertanian bisa lebih menjanjikan daripada pekerja kantoran jika memiliki manajemen yang baik. Sebab, hasil olahan dari pertanian merupakan kebutuhan primer manusia dan selalu dibutuhkan setiap saat. Lahan pertanian bisa menjadi tempat untuk meraih sukses walaupun usia masih muda. Kesuksesan yang diraih pun bisa memberikan manfaat bagi banyak orang terlebih lagi jika mampu memberdayakan masyarakat lokal di daerah mereka.


Hal inilah kemudian yang mengiring langkah Burhan, pemuda berusia 23 tahun asal desa Letta, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan yang memilih berkarya di lahan pertanian kopi untuk membuka peluang usaha.

Pemuda yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir di Universitas Muhammadiyah Parepare membangun masa depan dirinya juga kampung halamannya di Letta. Disaat anak muda seusianya memilih merantau ke kota untuk mencari penghasilan, Burhan justru tetap memilih tinggal di desa dengan memberdayakan kopi.

Burhan bersama 6 kawannya kini tergabung dalam penerima manfaat program muda berdaya dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan. Sebelumnya Burhan telah mengelolah Letta selama 3 tahun terakhir dan baru sejak September 2020, mereka gabung di Program Muda Berdaya.

Awalnya sebelum bergabung bersama DD Sulsel, Burhan mengatakan tidak begitu mahir teknik pengolahan kopi mulai dari pemangkasan hingga penjualan. Namun selama gabung bersama Dompet Dhuafa Sulsel, Burhan mengaku banyak mendapat pengetahuan terkait pengelolaan pertanian kopinya dan juga manajemen pemasaran.

Jadi para petani tidak hanya tau sekadar menanam, namun juga paham akan budidaya tanaman kopi. Nutrisi dan hama pohon juga penting untuk diperhatikan agar hasil panen kopinya jadi kaya rasa.
“Pohon kopi di Letta termasuk pohon tua, jadi memang perlu perlakuan khusus salah satunya adalah pemangkasan agar pohon tetap rendah sehingga mudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang baru, mempermudah masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama dan penyakit,” ungkap Burhan.

“Selain itu, kami juga terbantu dengan adanya rumah pengering yang diberikan Dompet Dhuafa. Para petani tidak susah lagi menjemur di musim tertentu misalkan di cuaca hujan. Cukup dimasukkan saja ke dalam rumah pengering dan kita hanya yang mengontrolnya,” tambahnya.

Saat ini, hasil olahan Kopi Robusta Letta telah dipasarkan di beberapa kedai kopi dan retail wilayah Pinrang, Pare-Pare dan Makassar. Namun target Burhan ingin memperlebar wilayah pemasaran sekaligus juga ingin memperkenalkan kalau kopi robusta milik Letta mampu bersaing di pasar lokal sulawesi hingga nasional. 

Program Muda Berdaya merupakan sebuah program pemberdayaan dengan melibatkan peran anak muda setempat dalam meningkatkan kualitas ekonomi di tempat tinggalnya masing-masing. Pemberdayaan ini juga bertujuan untuk memberi pelatihan dan wawasan mendalam kepada para petani guna menunjang sumber daya yang mandiri.

Be informed!

berlangganan info DD