Dompet Dhuafa Sulsel Kenalkan Pemberdayaan Kopi Pattongko Dan Upayanya Kurangi Kemiskinan

Dompet Dhuafa Sulsel Kenalkan Pemberdayaan Kopi Pattongko Dan Upayanya Kurangi Kemiskinan
Dompet Dhuafa Sulsel Kenalkan Pemberdayaan Kopi Pattongko Dan Upayanya Kurangi Kemiskinan

Dompet Dhuafa melalui program Muda Berdaya membentuk Kopi Pattongko di Kampung Pattongko dan Lappara, Kecamatan Sinjai Tengah, Kabupaten Sinjai.

Kepala cabang Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan (DD Sulsel) Rahmat Hidayat HM mengatakan, Kopi Pattongko merupakan program yang berupaya memberdayakan potensi desa yang berada di pelosok melalui kemampuan anak muda desa.

Kopi Pattongko merupakan rumah olah kopi yang telah dikelola oleh Ramly dan Mail sejak tahun 2017 kemudian bergabung ke dalam program muda berdaya bersama Dompet Dhuafa Sulsel tahun 2020 untuk menjangkau lebih banyak lagi penerima manfaat (PM) dengan tujuan mengekplorasi daerah dengan potensi pertanian yang baik serta memberdayakan masyarakat lewat inovasi pertanian berkelanjutan.

Melalui program muda berdaya, Kopi Pattongko bereksplorasi dan menemukan potensi melalui konsistensi menciptakan program pemberdayaan masyarakat mengenai rantai produksi, sistem kerja, hingga pelatihan pertanian yang bisa membantu mereka berkembang dan berkontribusi bersama dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Setelah bergabung pada program Muda Berdaya, untuk pertama kalinya tim Dompet Dhuafa Sulsel melakukan kunjungan ke wilayah perkebunan Kopi Pattongko sekaligus ikut panen hasil kopi pemberdayaan pada 11 Juni  – 13 Juni 2021. Ini merupakan panen perdana yang dilakukan bersama tim Dompet Dhuafa.

Perjalanan tim DD Sulsel dimulai hari Jumat (11/06/2021) pada pukul 12:00 dan tiba di perkebunan Pattongko pada waktu 19:00 kemudian dilanjutkan perjanan menggunakan motor 15 menit lalu dilanjutkan perjalanan kaki selama 15 menit dikarenakan medan jalan yang licin dan begitu curam. Jalanan menuju ke perkebunan Pattongko merupakan jalan swadaya yang dibangun oleh petani setempat untuk mempermudah akses mereka.

Kegiatan pemetikan kopi DD Sulsel bersama pemetik kopi Pattongko dimulai pada pagi hari Sabtu (12/03/2021). Tim DD Sulsel diajak pergi ke perkebunan kopi dengan berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Selama perjalanan, tim DD Sulsel disambut dengan kontur jalanan yang licin, terjal, dan mendaki.

Dalam perjalanan Ramly bercerita kesulitannya dalam mengolah perkebunan ini adalah akses yang jalan yang sulit sehingga para petani dan pemetik kopi harus membuat jalan swadaya agar dapat mengaksesnya menuju keperkebunan. Ditambah lagi kondisi kebun yang berjarak membuat para pemetik harus pindah kebun ke kebun dengan sangat hati-hati agar tidak salah berpijak.

Kawasan perkebunan ini merupakan kawasan hutan milik negara yang dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam namun bukan kopi sebagai penghasil ekonomi utama melainkan cengkeh, sehingga perawatan kopi sering dikesampingnya para warga. Namun kehadiran Ramly dan Mail akhirnya sedikit demi sedikit membuka kesadaran para petani bahwa kopi memiliki potensi ekonomi yang besar.

Melalui pendekatan sosial, para petani yang awalnya keliru akhirnya mulai memerhatikan kebun kopi milik mereka sehingga dapat menghasilkan kopi arabika yang berkualitas tinggi. Para petani mulai paham cara bercocok tanam begitupun dengan cara memetik kopi. Ramly dan Mail mengedukasi para petani cara yang benar bahwa dalam bercocok tanam, pohon kopi harus diperhatikan kesuburannya mulai dari pemangkasan hingga pemupukan. Dan juga pemetikan harus selektif yaitu hanya biji kopi yang berwarna merah saja yang boleh diambil sedangkan yang hijau dibiarkan matang dipohon, selanjutnya juga dilakukan pengambilan kopi yang telah jatuh di bawah pohon guna mencegah kerusakan pada pohon kopi.

Ramly juga bercerita kesulitan lain yang mereka hadapi yaitu curah hujan yang tinggi membuat banyak kerusakan pada kopi namun hal ini mereka jadikan bahan untuk menemukan inovasi dan solusi dalam pengolahan kebun kopi.

Selama kunjungan, Tim DD Sulsel diajak untuk memetik kopi bersama para PM pemetik Kopi Pattongko. Para PM bercerita mereka telah bergabung menjadi pemetik kopi selama 1 – 4 tahun. Mereka merasa senang bisa bekerja bersama Ramly dan Mail sebagai pemetik kopi dan bersyukur melalui program pemberdayaan ini, mereka bisa menghasilkan uang untuk kebutuhan dapur dan sekolah anak. Ibu Suarni pemetik kopi bercerita “Di saat tidak ada sumber pendapatan yang lain, Kopi Pattongko membantu kami untuk jadi pemetik kopi dengan upah yang baik. Ada solusi pendapatan untuk bantu suami menghidupi keluarga,” ucapnya penuh haru.


Ada pula bapak Syamsuddin mengatakan “Dulu saya kira, pengelola Kopi Pattongko itu hanya pedagang biasa yang mau kasih kacau harga. Ternyata, setelah mereka empat tahun membantu mengolah kopi kami,  akhirnya saya ikut program kopi pattongko. Alhamdulillah, ada jaminan kopi kami akan ke mana. Lalu harga untuk kopi kami juga jauh lebih baik. Makanya saat ini, saya ikutan juga, kembali merawat kopi yang selama ini mulai kami tinggalkan,” tuturnya.


Tidak hanya mengolah kebun kopi, baik ramly dan mail membuka peluang kerja untuk para warga yang membutuhkan.

Ketika kegiatan pemetikan selesai, tim DD Sulsel diajak untuk melakukan proses selanjutnya yaitu dengan pulping yaitu pemisahan antara biji kopi dan kulitnya. Pada proses ini, kopi terlebih dahulu di cuci dan rendam untuk memisahkannya dengan biji kopi yang tidak layak. Lalu proses selanjutnya yaitu melakukan peraman atau fermentasi biji kopi yang telah di pulping selama 18 jam. Biji kopi yang telah difermentasi selanjutnya dicuci secara bersih lalu kemudian dijemur selama 2 minggu hingga kering sebelum akhirnya dipasarkan.

Tinggalkan Komentar

Be informed!

berlangganan info DD