Menuju Ramadhan, Dompet Dhuafa Lakukan Survei Da’i Pedalaman

Bulan Ramadhan akan segera tiba. Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketakwaan, dikarenakan bulan ini memiliki banyak keutamaan. Pada Ramadhan kali ini, Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan akan kembali melaksakanan program Dai tahunan untuk pelosok dalam membantu masyarakat muslim meningkatkan amal ibadah.

Program Da’i Pedalaman ini merupakan salah satu program dakwah Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem masyarakat 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) yang islami dan mampu berdaya berdasarkan local wisdom wilayah. Pada Ramadhan tahun 2021, program da’i pedalam akan menyasar 7 Kabupaten di SULSELBAR dan menempatkan da’i pada daerah-daerah pelosok untuk memaksimalkan pengelolaan masjid dan kegiatan dakwah selama sebulan penuh di bulan ramadhan.

Selama 4 hari, sejak (24/03/2021) hingga (27/03/2021) tim Dompet Dhuafa telah melakukan proses survei dengan mendatangi wilayah-wilayah yang berpotensi diadakan syiar da’i pedalaman. Wilayah-wilayah tersebut yaitu di Kabupaten Barru, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Soppeng. Lokasi yang di pilih berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga sekitar yang menurut mereka kondisi keagamaannya yang butuh untuk didampingi.

Pada (24/03/2021), tim DD Sulsel memulai perjalanan dengan target lokasi pertama yaitu Desa Pujananting dan Desa Bulo Bulo yang merupakan desa yang menjadi daerah perbatasan antara Kabupaten Pangkajene Kepulauan dan Kabupaten Barru. Jarak Desa Pujananting dari Kota Barru sekitar 43 KM atau berkisar 1 jam 50 menit perjalanan menggunakan mobil. Sedangkan jarak desa Bulo Bulo dari kota Kabupaten Barru sekitar 55 KM dari Kota Barru dengan estimasi perjalanan kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan mobil.

“Menurut informasi dari Imam dusun yang diwawancarai menyatakan bahwa kondisi spiritual masyarakan desa Pujananting tergolong rendah, contohnya jika shalat wajib magrib dan subuh jamaah sekitar 10 orang dan waktu shalat dhuhur dan ashar hanya 2-3 orang yang datang kemasjid, sedang jumlah Kepala Keluarga yang ada disana ada sekitar 73 kepala keluarga”, sebut Rahman, Penanggung Jawab Program Pendidikan dan Dakwah.

Survei di hari kedua (25/03/2021) dilaksanakan di kabupaten Toraja Utara di daerah kampung Orongan, Kecamatan Rantebua, Kabupaten Toraja Utara. Jarak dari makassar ke Rantebua yaitu sekitar 305 KM dan 42 KM dari kota kabupaten toraja. Kondisi masyarakat muslim di Kampung Orongan tergolong minim. Hanya ada 34 KK yang muslim, dan jarak antar rumah  berjauhan sehingga masyarakat muslim hanya berkumpul jika ada kegiatan-kegiatan tertentu saja.

Dari yang disampaikan bapak Rantelino selaku KUA disana, pemahaman masyarakat Orongan juga masih rendah dalam hal agama, jangankan dalam shalat 5 waktu, terkadang untuk shalat jum’at saja yang datang ke masjid hanya 2-3 orang, sehingga yang dilaksanakan hanya shalat dhuhur. Tidak hanya itu, kegiatan anak-anak dalam mengaji juga kurang, begitu juga pengajian orang dewasa. Hal ini di karenakan semua warga jika siang hari berada di ladanga masing masing untuk menggarap pertanian mereka yang menjadi tumpuan utama dalam kehidupan mereka di kampung.

Sehingga untuk memaksimalkan dakwah disana di butuhkan terobosan baru dalam berdakwah misalnya dakwah di tiap rumah warga dan sejenisnya. Karna jarak antar masjid dan rumah warga yang berjauhan.

Survei ketiga (26/03/2021) berada di kabupaten Enrekang, tepatnya di desa Potokullin yang berada di Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, sekitar 272 KM dari Kota Makassar dengan jarak tempuh sekitar 7 -8 jam dengan kendaraaan roda empat. Jarak dari ibu kota kabupaten sekitar 53 KM atau sekitar 2 – 3 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Desa Potokullin merupakan desa kedua terakhir sebelum pendakian ke Gunung Latimojong.

Kondisi masyarakat dilihat dari keagamaan sudah cukup baik meskipun berada dipedalaman, tingkat kesadaran beribadah masyarakat salah satunya dapat dilihat dari banyaknya warga yang datang untuk shalat jum’at, namun dari informasi yang disampaikan oleh pak Imam dusun, bacaan sahalat dan gerakan shalat warga masih banyak yang salah dan untuk membantu membenarkan bacaan dan gerakan shalat mereka butuh waktu dan pembinaan yang lama, dan tidak ada yang bisa melakukan pembinaan tersebut. Untuk focus pembinaan lebih di kembangkan kepada pengajian orang dewasa untuk membina keagamaan warga disana.

Survei hari ke empat (27/03/2021) dilakukan di Kabupaten Soppeng dengan mendatangi 2 desa yaitu desa Patampanua dan desa Marioriaja. Jarak desa marioriaja dari makassar adalah 151 KM dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 4 jam perjalanan. sedang jarak dari kota soppeng adalah 36 KM atau sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Adapun jarak antar kedua desa tersebut 61 KM dengan estimasi perjalanan 2 jam perjalanan. Setelah melakukan survey di dua desa tersebut, akhirnya Tim DD  memilih Desa Marioriaja sebagai lokasi dai pedalaman tahun 2021. Hal ini dikarenakan Dompet Dhuafa tidak hanya ingin ingin menjalankan misi dakwah yang mana meningkatkan kesadaran masyarakat dalam beribadah, namun juga bertujuan untuk menginisiasi program pemberdayaan di wilayah penempatan.

Selama proses survei tersebut, beberapa kendala ditemui oleh Tim DD yaitu akses lokasi tidak memadai, beberapa jalanan terbilang rusak dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda 4 apalagi saat musim hujan tiba. Tapi semoga ini bukan jadi halangan untuk menyalurkan kebaikan. Karena Ramadhan saatnya kita berbagi lagi.

Selain 4 wilayah tadi, Dompet Dhuafa juga akan mengirimkan Dai ke 3 wilayah di Sulawesi Barat yaitu di Kabupaten Polewali Mandar, Majene dan Mamuju. Direncanakan pengiriman Dai Pedalaman ini akan dilakukan pada H-2 Ramadhan dan akan ditarik pada pekan pertama bulan Syawal.

Leave a Reply

Required fields are marked*