Dompet Dhuafa berbagi daging kurban di Gusung

Sabtu (25 September 2015), tepat hari tasyrik kedua, Dompet Dhuafa melalui program Tebar Hewan Kurban (THK) menyalurkan satu ekor sapi kurban dari para donatur setia Dompet Dhuafa.

Ada rasa haru terpancar dari raut wajah warga dusun kecil itu. Sehari-dua hari sebelum pemotongan hewan kurban. Ada cerita menarik yang bisa dipetik. Pernak-pernik panitia kurban. Dilema antara Panaikang dan Gusung. Dua lokasi tersebut sama-sama berpotensi Dan layak untuk dijadikan tempat penyaluran daging kurban. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Panaikang, lokasi pertengahan dengan akses cukup mudah untuk melancarkan proses THK, mulai dari transport, alat dan bahan dibutuhkan, hingga panitia sembelih pun ada dan mudah dikoordinir. Penduduk kurang lebih 75 KK dan menjadi salah satu area pennugasan da’i pelosok DOMPET DHUAFA SULSEL. Sementara itu, Gusung, dusun paling ujung dengan jumlah kurang lebih 90 KK, termasuk padat penduduk, pun layak menjadi lokasi THK, di sana juga termasuk area penugasan Dai Pelosok Dompet Dhuafa. Hanya saja, agak susah mencari orang yang bisa menyembelih hewan kurban, sebab di dusun Gusung ternyata tak punya Imam tetap. Biasanya hewan kurban disembelih oleh Imam Kampung. Itulah satu hal unik yang ada di Kab. Pangkep. Imam kampung merupakan tokoh agama yang biasa melakukan prosesi penting pada hari-hari besar, termasuk penyembelihan hewan kurban pada Idul Kurban dan hari tasyrik.
Bukan berarti sama sekali tak ada yang bisa menyembelih, hanya saja, ada patokan harga yang harus dibayar melebihi upah imam yang ala kadarnya, sesuai kemampuan pekurban. Orang Bugis menyebutnya “cenning-cenning ati”istilah dengan definisi “sesuai kerelaan hati”
Berbekal saran dari warga, penanggung jawab THK Bontomate’ne, Dasnah, mengeksekusi lokasi penyembelihan Di Dusun Gusung, tepat sehari sebelum tanggal pelaksanaan. Hewan kurban diantarkan ke lokasi saat maghrib menjelang. Usai maghrib hewan yang akan disembelih pun tiba di lokasi. Seketika, warga berkerumun tak beraturan. Bocah-bocah pun berlari mendekat sambil berceloteh, “sapinya besar sekali”. Kalimat tersebut diulang berkali-kali sambil menunjuk sapi yang siap dikurbankan esok hari. Mereka terlihat bergembira karena dusunnya mendapat jatah hewan kurban.
“Dompet Dhuafa bukan hanya membantu warga dusun kami dari segi penataan nilai agama melalui dai pelosok, tetapi juga membantu memikirkan warga dusun yang jarang menikmati daging karena harga yang selangit melalui program THK ini. Semoga DD makin jaya dan amanah dalam menebar ziswaf para donatur”
Demikianlah ungkapan terimakasih dipaparkan oleh Musnaeni, S.Pd.SD, salah seorang warga dusun Gusungnge yang juga menjadi panitia THK.
Kehadiran Dompet Dhuafa di area itu sudah sangat tepat. Anak-anak yang mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi di dusun Gusung dapat dihitung jari. Hingga saat ini baru tiga orang yang terdata di Perguruan Tinggi, bahkan hampir sebagian besar pemuda turut merantau ke tanah Papua demi mencari mata pencaharian. Rata-rata mata pencaharian mereka adalah nelayan. Rasa syukur warga tak terkira, dapat menikmati daging sapi gratis.
Penyembelihan pun berjalan dengan lancar. Imam Masjid Dan beberapa panitia Panaikang didatangkan ke dusun Gusung untuk menyembelih dan mengukiti hewan kurban. Akhirnya, sebagian penerima THK juga diperuntukkan di Panaikang. Tercatat sebanyak 26 kk penerima manfaat dari Panaikang. Sementara dari Dusun Gusung, tercatat sebanyak 60 penerima manfaat.
Terimakasih Dompet Dhuafa yang telah peduli pada kampung kami, ucap Dg. Pasewang, selaku ketua RK Dusun Gusung, Kel.Bontomatene,Kec. SEGERI KAB.PANGKEP.

Leave a comment