Kemarin (2 September 2015) saat berkunjung ke Kelurahan Minasatene Kabupaten Pangkep tepatnya di SMK 1 Minasatene, dengan tujuan kami ingin mensurvei calon penerima manfaat program Mariki’ Sekolah (Program Beasiswa DD Sul-Sel) yang mengajukan permohonan kebutuhan sekolah ke Dompet Dhuafa Sulsel. Salah seorang guru BK (Bu Tini) yang katanya ada seorang nenek yang keadaannya sangat memprihatinkan, Bu Tini banyak bercerita tentang keadaan nenek ini yang membuat kami penasaran dan berniat untuk mengetahui lebih jauh keadaan nenek tersebut. Setelah berbincang-bincang lama dengan Bu Tini, kami pun bergegas ke rumah nenek untuk melihat langsung kondisinya.
![]() |
| Nenek Hanija dengan pelita dirumahnya |
Nenek Hanija (74 tahun), tinggal di tengah-tengah pematang sawah yang jarak rumahnya tidak begitu jauh dari Leang Kassi, Pangkep. Rumah panggung beratapkan seng yang sudah tak layak pakai menjadi tempat berteduh Nenek Hanija, rumah tersebut merupakan satu-satunya peninggalan dari orang tuanya.
Sembari kami berjalan di tengah-tengah sawah yang kering, Nenek Hanija pun menyapa kami dengan bahasa daerah yang digunakan “Kemai ki….? (mau kemana…?)” ujarnya sambil tersenyum, karena kami tidak begitu paham dengan bahasa Nenek Hanija gunakan, maka Bu Tini lah yang membantu kami menerjemahkan apa yang dikatakan Nenek Hanija begitupun dengan apa yang kami katakan kepada sang nenek. Umurnya yang sudah tidak muda lagi membuat pendengaran nenek Hanija tidak begitu baik, terkadang apa yang kami tanyakan dijawab dengan jawaban yang berbeda. Nenek hanija tinggal sebatang kara yang berstatus belum menikah, keadaan beliau pun saat kami temui tergolong kotor, tidak terurus, dan tempat beliau tinggal berbau -maaf-pesing.
Kehidupan yang dijalani oleh Nenek Hanija memang sangat memprihatinkan, aliran listrik ke rumahnya belum ada, selain karena kondisi beliau tidak memungkinkan untuk mengurus pengadaan listrik di rumahnya juga karena tidak ada biaya untuk pembayaran listrik perbulan, setiap malam Nenek Hanija hanya bermodalkan pelita untuk menerangi rumahnya. Kebutuhan sehari-hari Nenek Hanija didapat dari hasil memulung plastik-plastik bekas yang kemudian dijual ke tukang loak, tapi itu dulu sebelum beliau sakit. Sekarang Nenek Hanija tidak bisa lagi beraktivitas seperti biasanya, beliau hanya mengharap uluran tangan tetangga yang masih peduli dengan kondisinya. Tidak ada suami, tidak punya anak, semua saudaranya pun meninggal karena sakit dan sebab lainnya.
Kebutuhan makan sehari-hari seperti beras diberikan langsung oleh pihak pemerintah setempat.
Rasa iba pun muncul dibenak kami melihat keadaan nenek hanija yang hidup sebatang kara, tanpa berfikir panjang kami pun bergegas ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari sang nenek.
Selain sembako, kami juga memberikan santunan uang tunai untuk kebutuhan lain beliau.
“pa’risi bantangku tena nganre juku, doena ero’ ku paballi juku” (sakit perut saya karena tidak pernah makan ikan, uangnya ingin saya gunakan buat beli ikan), ujarnya sambil tertawa. (Nurwana)
“pa’risi bantangku tena nganre juku, doena ero’ ku paballi juku” (sakit perut saya karena tidak pernah makan ikan, uangnya ingin saya gunakan buat beli ikan), ujarnya sambil tertawa. (Nurwana)
