

Di sudut tenang Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, ada suara-suara kecil yang setiap hari melantunkan ayat suci. Suara itu mungkin tak terdengar hingga ke kota, namun menggema kuat di langit sebagai doa dan harapan.
Di Pesantren Tahfidzul Qur’an Nurul Jibal, lebih dari 40 santri dan santriwati mengabdikan masa mudanya untuk menghafal Kalamullah. Mereka memilih jalan sunyi—jalan para penjaga Al-Qur’an.
Namun jalan itu tidak selalu mudah.
Asrama santriwati berdiri dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Lantainya belum memadai. Plafonnya belum sempurna. Ketika hujan turun, air merembes masuk, membasahi tikar dan perlengkapan sederhana mereka. Di malam hari, mereka beristirahat dalam ruang lembap, dengan tubuh lelah setelah seharian murojaah.
Yang lebih menyayat hati, selama hampir dua tahun para santriwati harus menggunakan kamar mandi darurat berdinding terpal yang telah sobek. Terletak di area terbuka, tanpa perlindungan yang layak.
Bukan hanya tidak nyaman—tetapi menghadirkan rasa takut.
“Kadang kami ragu-ragu menggunakan kamar mandi dan merasa was-was karena dinding terpalnya sudah sobek. Kami takut jika menggunakannya sendiri tanpa ada yang berjaga di luar,” tutur Inayah, lirih.
Bayangkan, anak-anak penghafal Al-Qur’an harus menahan cemas hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Air bersih pun bukan sesuatu yang mudah. Untuk mendapatkannya, mereka terkadang harus berjalan hingga dua kilometer. Mesin air yang ada tak mampu bekerja optimal. Sudah beberapa kali diganti, namun tetap belum menjadi solusi yang cukup.
Di tengah segala keterbatasan itu, mereka tetap menghafal.
Tetap bangun sebelum fajar.
Tetap menjaga ayat demi ayat dalam dada.
Ini bukan sekadar proyek pembangunan.
Ini tentang menghadirkan rasa aman bagi anak-anak perempuan yang sedang menjaga ayat-ayat Allah.
Ini tentang memastikan mereka tidak lagi was-was saat malam tiba.
Ini tentang memberi ruang yang pantas bagi generasi penjaga cahaya.
Setiap bata yang tersusun akan menjadi saksi.
Setiap semen yang mengeras akan menjadi pondasi pahala.
Setiap rupiah yang Anda titipkan akan mengalir bersama hafalan mereka—ayat demi ayat, doa demi doa.
Bayangkan ketika suatu hari nanti, salah satu dari mereka menjadi pengajar Al-Qur’an, menjadi imam, menjadi cahaya bagi masyarakat. Di setiap huruf yang mereka ajarkan, ada bagian kebaikan Anda di dalamnya.
Karena membangun asrama untuk penghafal Al-Qur’an bukan hanya membangun tempat tinggal—
tetapi membangun generasi penjaga wahyu.
Mari bersama hadirkan tempat yang layak, aman, dan bermartabat bagi para santri di Sinjai.
Agar mereka bisa fokus menjaga Al-Qur’an, tanpa lagi dihantui rasa takut hanya untuk sekadar mandi atau beristirahat.
![]()
Belum ada Fundraiser