Suasana ramai oleh tawa anak-anak, mereka berlari berkelompok, membentuk kotak ataupun lingkaran. Seperti sedang bermain, sebenarnya mereka sedang belajar tentang bangun ruang.
Guru adalah seorang seniman yang tak nampak berbeda dengan sutradara. Melalui seorang guru dapat terpahat sebuah keindahan yaitu siswa sebagai pesan yang dikirim untuk membangun sebuah peradaban kelak. Kelas yang pasif mampu manjadi kelas yang aktif nan menyenangkan. Hal ini tak terlepas dari seorang guru. Kelas pasif pangkal guru kreatif. Guru yang sadar akan perannya mampu membangkitkan gairah siswa untuk selalu haus ilmu pengetahuan. Guru sang pembelajar mampu mengintegrasikan dari satu bidang studi ke bidang studi yang lain.
Hal ini dapat dilihat di Mi Miftahul Khair pada kelas 2 yang memiliki wali kelas bernama Ibu Mardiana. Sentuhan program pendidikan pendampingan Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan melakukan inovasi pada kelas 2. Kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya pasif dapat diubah menjadi kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan berkat pendampingan sekolah Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan. Kala itu tepatnya di hari Rabu, Bu Mardiana memberikan pelajaran Tematik Matematika dan SBK (Seni Budaya Keterampilan). Matematika menjadi pembuka pelajaran. Lalu, dilanjutkan dengan pelajaran SBK. Siswa begitu antusias mengikuti pelajaran yang dipandu oleh Bu Mardiana. Pasalnya siswa yang memiliki gaya belajar audio, visual dan kinestetik dapat tersalurkan.

Pelajaran Matematika membahas tentang bangun ruang (lingkaran, segi empat, segi tiga). Guru yang menyenangkan, kelas yang cooperative, materi pembelajaran yang variatif, model & metode pembelajaran yang beragam membuat siswa memiliki pengalaman belajar yang menyenangkan yang senantiasa selalu ingin belajar.
SBK membahas tentang pola gerakan sesuai bentuk bangun datar dengan cara siswa membuat gerakan sesuai pola bangun datar. Dalam hal ini, siswa yang memiliki model belajar kinestetik dapat tersalurkan karena anggota tubuh memdapatkan stimulus berupa gerakan.
“Namanya, Agus, sebelumnya ia pasif dikelas, dengan metode seperti ini, Agus mulai terlihat aktif. Mereka semangat belajarnya, katanya, seperti sedang bermain.” Ibu Mardiana menceritakan tentang salah satu siswanya.
Selain itu, pada pelajaran Matematika siswa juga menggunting kertas origami sesuai pola bangun datar. Lalu, menempelkan potongan kertas tersebut. Jadi, antara mata pelajaran yang satu dengan mata pelajaran yang lainnya dapat ditematikkan. Mensinergikan dua pelajaran yang berbeda ataupun lebih mampu membuat siswa lebih bergairah dalam menerima pelajaran (Azizah).