Bertemu Masyita: Jadikan Alquran Sebagai Penolong

Bertemu Masyita: Jadikan Alquran Sebagai Penolong

Semangat dalam belajar dan menghafal Al-Quran terus digemakan Masyita Putri Nasyira, Hafidz Cilik Indonesia. Meskipun ditengah keterbatasan fisik yang ia miliki, hal ini tidak menyurutkan gadis 12 tahun ini untuk menghafal Alquran. Gadis kecil ini telah menghafal 30 jus  Al Quran diusianya yang baru 12 tahun.

Masyita adalah anak yang terlahir dengan total blind atau tidak dapat melihat objek apapun. Hal ini disampaikan oleh ibuda Masyita, Irawati.

“Anak saya terlahir prematur dan tidak melihat, namun Allah punya rencana lain. Masyita diberikan hidayah menjadi penghafal alquran. Dulu sewaktu masyita masih berumur balita, dia sedikit autis, sedikit saja ngamuk, pokoknya apa yang di depannya itu dihambur kadang juga suka mukul apalagi kalau sama anak kecil. Lalu ketika ayahnya perdengarkan Alquran, dia langsung diam dan sejak itu dia mulai suka bahkan betah duduk depan tv untuk mendengarkan lantunan ayat Alquran, ” kata Irawati

“Surah pertama yang dihafal Masyita ketika itu adalah Ar-Rahman. Dia sangat suka dengan surat itu dan sering mendengarkannya berkali-kali dan alhamdulillah lama kelamaan bisa menghafal Alquran, padahal kita tidak pernah mengajarkannya. Ini semua dia dapatkan secara otodidak,” terangnya.

Tentu pencapaian yang didapatkan Masyita dalam menghafal ini berkat disiplin, konsisten dan juga dorongan dari orang tuanya. Ibunda Masyita, Irawati menyampaikan bahwa mereka terus mendukung masyita dalam belajar Alquran. Setiap hari Masyita konsisten dan disiplin membaca dan mengulang-ngulang bacaan alquran.

Pada sesi tanya jawab program Ngaji Bareng Masyita oleh Dompet Dhuafa Sulsel, Irawati membagikan tipsnya agar anak bisa menghafal Alquran. “Tipsnya agar anak dapat menghafal alquran yaitu dengan jangan paksakan anak menghafal, serahkan semua kepada anak.  Kita cukup membimbing menyesuaikan kemampuan anak. Terus lakukan murajaa membaca secara berulang-ulang. Insya Allah akan menjadi bekal Akhirat,” imbuhnya.

Masyita yang kini duduk di kelas 1 sekolah menengah bercerita bahwa dia telah mengenal Alquran sejak usia 3 tahun. Saat itu ia melalui mendengarkannya melelalui saluran tv. Mulai sejak itu ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam depan tv untuk mendengarkan lantunan ayat suci alquran dan merekam melalui ingatannya. Pada usia 7 tahun Masyita telah menghafal 5 Juz dan ia kemudian mengikuti kompetisi  Hafidz Cilik Indonesia pada tahun 2016. Dari sini Masyita pun semakin terpacu untuk menjadi penghafal Alquran. Dan alhamdulillah berkat kegigihannya, pada tahun 2019 lalu Masyita telah menghafal 30 juz.

Dalam wawancaranya bersama Dompet Dhuafa Sulsel, Masyita menyampaikan pesannya untuk selalu dekat dengan Alquran. “Jadikan Al-quran sebagai penolong. Jangan lupa murajaah setiap hari, tanamkan dalam hati untuk selalu cinta al quran,” ungkapnya.

Bertemu Yunita: Perempuan Tangguh, Sosok Kartini Untuk 2 Anaknya

Bertemu Yunita: Perempuan Tangguh, Sosok Kartini Untuk 2 Anaknya

Bulan April dikenal sebagai bulannya Kartini. Tepatnya setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini. Kartini merupakan sosok perempuan inspiratif yang telah memberikan kontribusi besar yang sangat dirasakan oleh kaum perempuan saat ini. Mulai dari hak untuk mendapatkan pendidikan, hingga kesetaraan dalam pekerjaan. Sosok Kartini lantas tidak menghilang begitu saja, karena selalu ada penerus yang melakukan perubahan dengan caranya sendiri.

Salah satunya adalah Yunita atau yang biasa dipanggil Nita, seorang single parent yang berjuang menafkahi sendiri kedua anaknya setelah perpisahan dengan suaminya beberapa tahun yang lalu.

Berperan ganda menjadi ibu dan ayah sekaligus tentu tidak mudah baginya, harus siap mental, harus berjalan sendiri walau kadang kaki tak mampu untuk menapak lebih jauh. Namun untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak dan keluarganya ia mampu berjuang seorang diri.

Kerasnya perjuangan menjadi orang tua tunggal mengharuskan Nita mencari cara agar dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dia pun bekerja sebagai juru masak dan bergabung menjadi penerima manfaat, program ekonomi Lesehan Macca, Dompet Dhuafa Sulsel.

Penghasilan yang di dapat dari koki masak mampu ia gunakan untuk menghidupi kedua anaknya yaitu Ari 9 tahun, Wilda 5 tahun dan juga sebagian untuk nenek dan ayahnya. Selain memang untuk anak, tanggung jawab Nita sebagai anak dan cucu juga mengharuskannya menghidupi keluarganya yang sama-sama tinggal di satu rumah.

Wanita berusia 26 tahun ini juga bercerita, “Saya hanya mempunyai dua tangan saja dan keduanya itu untuk anakku, tapi saya juga punya 2 kaki dan bahu yang punya tanggung jawab untuk keluarga,” ungkapnya.

Bersyukurnya Nita, ia diberi pekerjaan yang dapat mendukung ekonomi keluarganya. “Alhamdulillah selama 8 bulan bergabung di Lesehan Macca, penghasilan saya bisa membeli kebutuhan pokok dan lainnya, baiknya juga disini saya diperbolehkan membawa anak pergi kerja karena di rumah tidak ada yang jaga dan anak juga tidak rewel, mengerti pekerjaan ibunya,” imbuhnya.

Dalam wawancaranya bersama tim DD Sulsel, Nita juga berimpian suatu saat nanti ia ingin buka usaha sendiri, namun sekarang waktunya ia untuk memperbanyak pengalaman memasak dulu.

Berkaitan dengan perayaan hari Kartini yang jatuh pada 21 April ini, Nita menyampaikan pesannya bahwa perempuan harus bangga walaupun tanpa laki-laki, perempuan juga bisa walaupun tidak seberapa keras perjuangannya. Jangan lemah, karena kalau lemah anak-anak bagaimana?

Bertemu Burhan: Berkarya dan Berdaya Dari Desa

Bertemu Burhan: Berkarya dan Berdaya Dari Desa


Melihat zaman milenial saat ini, banyak anak muda yang memilih untuk bekerja di perkantoran ataupun terjun di industri digital dan kreatif lainnya. Menjadi pegawai kantoran dan menjadi seorang vlogger atau streamer dianggap memiliki daya tariknya sendiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Dunia pertanian pun jarang dilirik oleh generasi muda sebab sering dianggap tidak merepresentasikan prospek karir yang menjanjikan. Padahal jika dilihat lebih jauh pendapatan dari dunia pertanian bisa lebih menjanjikan daripada pekerja kantoran jika memiliki manajemen yang baik. Sebab, hasil olahan dari pertanian merupakan kebutuhan primer manusia dan selalu dibutuhkan setiap saat. Lahan pertanian bisa menjadi tempat untuk meraih sukses walaupun usia masih muda. Kesuksesan yang diraih pun bisa memberikan manfaat bagi banyak orang terlebih lagi jika mampu memberdayakan masyarakat lokal di daerah mereka.


Hal inilah kemudian yang mengiring langkah Burhan, pemuda berusia 23 tahun asal desa Letta, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan yang memilih berkarya di lahan pertanian kopi untuk membuka peluang usaha.

Pemuda yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir di Universitas Muhammadiyah Parepare membangun masa depan dirinya juga kampung halamannya di Letta. Disaat anak muda seusianya memilih merantau ke kota untuk mencari penghasilan, Burhan justru tetap memilih tinggal di desa dengan memberdayakan kopi.

Burhan bersama 6 kawannya kini tergabung dalam penerima manfaat program muda berdaya dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan. Sebelumnya Burhan telah mengelolah Letta selama 3 tahun terakhir dan baru sejak September 2020, mereka gabung di Program Muda Berdaya.

Awalnya sebelum bergabung bersama DD Sulsel, Burhan mengatakan tidak begitu mahir teknik pengolahan kopi mulai dari pemangkasan hingga penjualan. Namun selama gabung bersama Dompet Dhuafa Sulsel, Burhan mengaku banyak mendapat pengetahuan terkait pengelolaan pertanian kopinya dan juga manajemen pemasaran.

Jadi para petani tidak hanya tau sekadar menanam, namun juga paham akan budidaya tanaman kopi. Nutrisi dan hama pohon juga penting untuk diperhatikan agar hasil panen kopinya jadi kaya rasa.
“Pohon kopi di Letta termasuk pohon tua, jadi memang perlu perlakuan khusus salah satunya adalah pemangkasan agar pohon tetap rendah sehingga mudah perawatannya, membentuk cabang-cabang produksi yang baru, mempermudah masuknya cahaya dan mempermudah pengendalian hama dan penyakit,” ungkap Burhan.

“Selain itu, kami juga terbantu dengan adanya rumah pengering yang diberikan Dompet Dhuafa. Para petani tidak susah lagi menjemur di musim tertentu misalkan di cuaca hujan. Cukup dimasukkan saja ke dalam rumah pengering dan kita hanya yang mengontrolnya,” tambahnya.

Saat ini, hasil olahan Kopi Robusta Letta telah dipasarkan di beberapa kedai kopi dan retail wilayah Pinrang, Pare-Pare dan Makassar. Namun target Burhan ingin memperlebar wilayah pemasaran sekaligus juga ingin memperkenalkan kalau kopi robusta milik Letta mampu bersaing di pasar lokal sulawesi hingga nasional. 

Program Muda Berdaya merupakan sebuah program pemberdayaan dengan melibatkan peran anak muda setempat dalam meningkatkan kualitas ekonomi di tempat tinggalnya masing-masing. Pemberdayaan ini juga bertujuan untuk memberi pelatihan dan wawasan mendalam kepada para petani guna menunjang sumber daya yang mandiri.

Copyright © 2026 DD Sulsel