Peringati Hari Tani, Dompet Dhuafa ingin petani semakin sejahtera

Peringati Hari Tani, Dompet Dhuafa ingin petani semakin sejahtera
Peringati Hari Tani, Dompet Dhuafa ingin petani semakin sejahtera

Bayangkan apabila sehari kita tidak makan nasi, minum kopi, atau sekadar santap cemilan kerupuk.  Bayangkan bila tidak ada petani, dan bayangkan jika kita kekurangan hasil bumi. Mungkin saja hari-hari kita akan terasa lebih berat karena tidak disokong oleh nutrisi yang cukup.

Hasil bumi adalah penunjang untuk manusia terus tumbuh dan berevolusi. Sebab itu dibutuhkan ketahanan pangan agar tubuh senantiasa terjaga.

Indonesia adalah negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang melimpah yang dapat mencukupi ketahanan pangan masyarakat secara nasional juga dapat mendorong perekonomian negara.

Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia ditunjang dengan berbagai macam sektor pertanian mulai dari padi, kopi, coklat, cengkeh, sayur mayur, rumput laut, umbi-umbian, dan lain sebagainya.

Dengan adanya sumber daya pertanian yang kaya, masyarakat pun mampu mengelolah swasembada pangan mereka. Akan tetapi yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah peningkatan kualitas petani dan pertanian di Indonesia. Masih banyak petani yang belum tersentuh oleh pendampingan dan penyuluhan terkait teknologi pertanian yang baik terutama para petani yang berada di pelosok. Minimnya akses ke pelosok serta fasilitas petani yang belum mumpuni, menyebabkan kualitas produk pertanian menjadi kurang.



Melihat hal itu,
Dompet Dhuafa Sulsel turut hadir untuk menjadi solusi di tengah tantangan para petani. Mendayagunakan zakat sebagai modal produksi dan pendampingan bagi para petani, hingga pengelolaan pasca panen.

Saat ini Dompet Dhuafa Sulsel tengah mengelola pemberdayaan pertanian Kopi Pattongko di Sinjai, Kopi Letta di Pinrang melalui zakat produktif. Dompet Dhuafa terus berikhtiar untuk mengangkat harkat dan martabat para dhuafa untuk dapat berdaya, mandiri dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

Beberapa petani mengungkapkan bahwa, dengan adanya pembinaan dari Dompet Dhuafa, mereka dapat merasakan kualitas produk dan jumlah panen yang signifikan. Para petani telah mendapatkan penyuluhan cara pemeliharaan yang baik seperti pangkas, pemupukan dan pembersihan kebun.


Petani berharap, untuk terus diberikan pendampingan, edukasi untuk merawat tanaman kopi. Apalagi, kehadiran program pemberdayaan kopi pattongko, membawa dampak yang sangat baik. Petani yang tergabung dalam penerima manfaat, tidak lagi ketakutan akan harga kopi yang tak pasti, karena kopi dari kebun tinggal dibawa ke pengelola Kopi Pattongko, untuk diolah.

Ada pun kopi yang tidak memenuhi standar Kopi Pattongko, tetap akan dibantu oleh pengelola sehingga untuk proses pasca panen, sehingga petani tetap menikmati kopi yang berkualitas untuk konsumsi rumah tangga petani.

Puang Alimuddin selaku salah satu penerima manfaat mengatakan bahwa kehadiran program pemberdayaan pada petani kopi, menumbuhkan kembali harapan yang pernah pupus, bahwa kedepan Pattongko dan Kampung Lappara, akan menjadi surga kopi di Sinjai, dan kopi dari sini akan menjadi kopi yang diperhitungkan dunia.

Sejak bersama Kopi Pattongko, Puang Alimuddin mendapatkan banyak informasi mengenai teknik-teknik olah kopi. “Salah satu yang bikin saya makin cinta dengan kopi, sedikit saja diubah cara olahnya, eh rasa yang dihasilkan juga lain. Ada aroma buah nangka, aroma anggur, jeruk. Padahal ini adalah kopi yang jelas-jelas selama ini rasanya hanya pahit,” ungkapnya.

Walaupun demikian, masih banyak ditemukan pada para petani yaitu kondisi cuaca. Di Kopi Pattongko misalnya kondisi cuaca yang buruk membuat buah kopi mudah berguguran. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat petani, untuk terus merawat tanaman kopinya.

Adapun kendala lain yang dihadapi oleh petani kopi di Letta adalah menyiapkan varietas pohon kopi yang unggul dengan volume buah yang banyak, mengingat hampir seluruh petani kopi di Letta memiliki tinggi pohon kopi yang tidak ideal karena tingginya mencapai 3 – 5 dan telah berdiri sejak 20 tahun. Selain itu, kesehatan pohon pun perlu pemeliharaan khusus seperti mendapatkan sinar matahari, peremajaan, pemeriksaan hama buah dan pohon. Agar senantiasa menghasilkan kualitas kopi yang baik.

Dalam diskusi tim DD Sulsel saat berkunjung panen di perkebunan Letta, salah satu petani, mengatakan bahwa kehadiran program pemberdayaan pada petani kopi, menumbuhkan semangat petani lagi untuk memperhatikan kopinya. Terlebih lagi dengan masuknya Dompet Dhuafa disini membuat para petani kopi Letta jadi merasa terbantu.



Selain diberikan edukasi terkait pemeliharaan kopi, Dompet Dhuafa juga datang untuk membeli dan mendistribusikan kopi. Sehingga para petani tidak perlu lagi turun ke pasar untuk menjual kopinya kepada tengkulak. Harapan mereka Letta menjadi surga kopi arabika di Pinrang, dan mampu bersaing di pasar lokal.

Saat ini Kopi Arabika Letta telah menghasilkan 6 – 8 ton kopi per tahun dan diprediksi akan mencapai 10 ton per tahun melihat pertumbuhan kopi sekarang yang signifikan.


Dalam memperingati Hari Tani Nasional yang jatuh pada 24 September ini, para petani kopi baik di Letta maupun Pattongko berharap agar produktivitas kopi semakin meningkat dan memiliki nilai jual yang tinggi sehingga mereka mampu mandiri, berdaya dan sejahtera melalui hasil panen kopi.

Be informed!

berlangganan info DD