Kisah Pejuang Tangguh si “Pengayuh Becak” Keluarga Takaful

Usia yang lanjut tidak membuat pak Gadong daeng Ngitung berhenti mengayuh becaknya untuk menghidupi keluarganya. Gadong daeng ngitung adalah bapak dari dua orang anak, sosok bapak yang gigih berjuang untuk menghidupi keluarganya meskipun dengan pendapatan yang tidak menentu Gadong daeng ngitung tetap bertahan hidup untuk menghidupi anak istrinya. Bagi dirinya hidup adalah suatu perjuangan yang harus beliau hadapi.

Bapak 2 orang anak ini bertempat tinggal di jl. Skarda N Lr. 3 No. 29/RT 004/RW 016 dikontrakan yang berukuran 3X3 meter disitulah beliau hidup bersama istri dan kedua anaknya, istri beliau bernama salia daeng nurung dan dua orang anak Nurliah dan junaidi, kedua anak daeng ngitung dulunya bersekolah namun karena keterbatasan biaya hidup, membuat kedua anaknya tidak lagi dapat melanjutkan pendidikan. Berprofesi sebagai tukang becak yang digeluti kurang lebih sepuluh tahun dengan penghasilan yang tidak tetap menjadi satu-satunya sumber mata pencaharian Bapak Dg. Ngitung untuk menghidupi keluarganya.

Tentunya Dg. Ngitung hanyalah salah satu orang diantara banyak orang yang senasib dengan beliau, mungkin pembaca yang di Rahmati Allah juga sudah banyak mendengar kisah-kisah seperti pak Dg. Ngitung ini, lalu sebagai sesama muslim apakah kita hanya  bisa melihat, menyaksikan, dan membaca kisah tersebut? tidakkah kita ingin membantu meringankan beban orang-orang seperti beliau? Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, Rasulullah SAW bersabda “…Seorang muslim itu saudara muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya (tidak memberikan pertolongan kepadanya), mendustainya dan tidak boleh menghinakannya. Taqwa itu berada disini, beliau menunjuk dadanya tiga kali. Cukuplah seorang (muslim) dianggap (melakukan) kejahatan karena melecehkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim lain haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah)
Masihkah kita berdiam diri? Mari salurkan ZISWAF sahabat, agar kita menjadi hamba-hambaNya yang bertakwa. Karena Zakat, Infak, Shadaqah, Wakaf merupakan instrument-instrument penghapus kemiskinan dalam Islam.

Kisah Ibu Timang “Nenek tangguh yang mandiri”

 Timang adalah nenek berumur 72 tahun bertempat tinggal di jl. Borong Raya Lr. 5 yang kini hidup bersama 2 orang cucunya, ibu dari cucu nenek timang meninggal lima tahun yang lalu dan ayahnya meninggal 3 tahun yang lalu maka nenek timang yang berkewajiban merawat dua orang cucunya. Cucu pertama bernama reski berumur 15 tahun saat ini berstatus sebagai pelajar kelas 3 SMP dan cucu yang kedua bernama Rezman berumur 13 tahun yang juga berstatus  sebagai pelajar kelas 6 SD, kedua cucu nenek timang tahun ini akan memasuki jenjang pendidikan SMA dan SMP. Demi membiayai hidupnya sehari-hari dan menyekolahkan kedua cucunya, nenek timang rela bekerja banting tulang menitip kue ke warung-warung. Jarak dari rumah ke warung tempat penitipan kue berkisar 1km yang ditempuh dengan berjalan kaki.
            Penghasilan perhari nenek timang 50.000 rupiah, 15.000 untuk  uang jajan cucunya ketika hendak pergi ke sekolah dan 35.000 nya dipergunakan untuk usaha jajanannya dan makan sehari-harinya bersama 2 orang cucu. Bersama dengan kedua cucunya, tinggal di gubuk yang sangat jauh dari layak, berdinding seng dan atap seng  yang berlobang, mereka melalui malam dan siang bersama.Sehari-hari dengan makan seadanya, ketika ada sisa keuntungan jualan kue yang telah lebih dahulu dikurangi jajan untuk kedua cucunya dan modal usaha kue. Nenek ini tetap bersyukur dengan keadaannya, untuk mendapatkan suasana khusyuk dalam sholatnya Nenek timang selalu berusaha sholat di mesjid selain udara dingin di mesjid juga mesjid tempat yang lapang untuk Nenek Timang dalam memasrahkan diri kepadaNYA. Pada kenyataanya Ibu Timang adalah satu diantara manusia yang masih berjuang untuk hidup secara mandiri,walau mengalami kesulitan dalam segi financial tapi semangat beliau untuk tetap hidup dan menghidupi keluarganya begitu besar,tidak ada kata menyerah dalam kamus Ibu timang pada kehidupan dunia. Entah berapa banyak lagi orang-orang seperti ibu timang yang punya semangat hidup seperti beliau.
          Dan saat ini mungkin masih banyak orang-orang seperti beliau yang membutuhkan bantuan dari kita,kemandirian yang didirikan oleh orang-orang seperti timang akan menjadi ringan,ketika diri kita yang memilki kelebihan dalam sisi harta, kita dapat menyisihkan sebagian harta kita untuk orang-orang seperti beliau,seperti yang kita ketahui sendiri “ dibalik harta kekayaan yang manusia miliki, tersimpan hak fakir miskin, yang tergolong kedalam Mustahik. Untuk itu harta tersebut harus diserahkan sebagian kepada golongan yang berhak menerimanya, agar harta tersebut mendapat berkah.”  

Mari kita bersihkan harta kita dengan membayar zakat dan menyalurkannya kepada orang-orang yang membutuhkan seperti ibu timang dan yang lainnya,mari bersihkan harta kita dan raihlah keberkahan dengan harta yang kita miliki.

Memadukan Ilmu dan Amal

Ibnu Bathah menuturkan sebuah riwayat dari Masruq, dari Abdullah yang berkata, “Sesungguhnya kalian berada pada suatu zaman yang di dalamnya beramal adalah lebih baik daripada berpendapat. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya berpendapat lebih baik daripada beramal.” (Ibn Baththah, Al-Ibanah al-Kubra, I/207).

Ath-Thabrani juga meriwayatkan sebuah hadis dari penuturan al-’Ala bin al-Harits, dari Hizam bin Hakim bin Hizam, dari ayahnya, dari Baginda Nabi Muhammad saw. yang bersabda, “Kalian benar-benar berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak sekali fuqaha dan sedikit sekali para ahli pidato…Pada zaman ini amal adalah lebih baik daripada ilmu. Kelak akan datang suatu zaman yang di dalamnya sedikit sekali fuqaha dan banyak para ahli pidato…Pada zaman ini ilmu lebih baik daripada amal.” (Ath-Thabrani, Al-Mu’jam al-Kabir III/236)

Dari kedua hadis di atas setidaknya dapat dipahami bahwa pada zaman yang pertama (yakni generasi Sahabat Nabi saw.) kebanyakan orang memahami Islam secara mendalam. Karena itu, yang dibutuhkan saat itu adalah mengamalkan apa yang telah dipahami. Sebaliknya, pada zaman yang kedua-kemungkinan adalah zaman kita hari ini-saat orang-orang yang memahami Islam secara mendalam sangat sedikit maka banyak orang yang beramal tanpa ilmu. Karena itu, pada zaman kini memahami dan mendalami Islam-yang kemudian diamalkan-tentu lebih penting daripada beramal tanpa didasarkan pada ilmu.

Kesimpulan ini setidaknya sesuai dengan makna riwayat yang diungkapkan oleh Imam Malik saat menuturkan hadis penuturan Yahya bin Said yang berkata bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau berada pada suatu zaman yang di dalamnya banyak para fuqaha dan sedikit para pembaca al-Quran yang menjaga hukum-hukumnya dan tidak terlalu fokus pada huruf-hurufnya…Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya sedikit para fuqaha dan banyak para pembaca al-Qurannya yang menjaga huruf-hurufnya tetapi mengabaikan hukum-hukumnya.” (Imam Malik, Al-Muwaththa’, II/44).

Dari hadis ini setidaknya dapat dipahami tiga perkara. Pertama: Ibn Mas’ud tidak bermaksud menyatakan orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya sedikit. Namun, yang beliau maksud bahwa orang-orang yang membaca al-Quran pada zamannya-yang perhatiannya hanya pada bacaan tanpa memperhatikan hukum-hukumnya-amatlah sedikit. Dengan kata lain, pada zaman Sahabat Nabi saw. orang-orang biasa membaca al-Quran sekaligus memahami dan mengamalkan hukum-hukumnya, dan tidak memokuskan perhatiannya pada huruf-hurufnya, karena memang al-Quran adalah bahasa mereka. Sebaliknya, pada zaman kini-zaman yang mungkin diisyaratkan dalam hadis ini oleh Ibn Mas’ud-banyak orang membaca al-Quran hanya fokus pada bacaan (huruf-huruf)-nya saja, tetapi tidak memahami apalagi mengamalkan hukum-hukumnya.

Kedua: Akan datang suatu zaman-yang tentu berbeda dengan zaman Ibn Mas’ud alias zaman Sahabat Nabi saw.-yang di dalamnya sedikit para fuqaha (ahli fikih). Maksudnya, pada zaman itu-boleh jadi zaman kita hari ini-orang-orang yang memahami Islam secara mendalam amatlah sedikit. Kebanyakan mereka adalah yang bisa dan biasa membaca al-Quran tetapi tidak memahami isinya secara mendalam. Tentu hadis ini tidak sedang mencela para pembaca dan penghapal al-Quran. Yang dicela adalah sedikitnya para fuqaha dari kalangan mereka karena tujuan akhir mereka sebatas membaca dan menghapal al-Quran, bukan memahami isinya apalagi mengamalkan dan menerapkan hukum-hukumnya.

Ketiga: Akan datang suatu zaman yang di dalamnya huruf-huruf al-Quran benar-benar dijaga, tetapi hukum-hukumnya ditelantarkan. Maknanya, para pemelihara mushaf al-Quran jumlahnya banyak. Namun, kebanyakan mereka tidak memahami isi al-Quran itu. Tidak pula pada saat itu-yang sesungguhnya telah terjadi pada zaman kini-manusia dipimpin oleh imam atau para penguasa yang menerapkan al-Quran di tengah-tengah mereka. Akibatnya, hukum-hukum al-Quran ditelantarkan. Ini jelas bertentangan dengan zaman Sahabat Nabi saw. saat manusia dipimpin oleh para pemimpin yang berhukum dengan al-Quran dan menerapkan al-Quran kepada mereka (Lihat: Al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’, I/429).

Alhasil, pesan inti dari hadis di atas sesungguhnya adalah: Pertama, dorongan kepada setiap Muslim untuk membaca dan memahami al-Quran atau mendalami Islam. Kedua, mengamalkan isi al-Quran termasuk berusaha terus mendorong para penguasa untuk menerapkan hukum-hukumnya (syariah Islam) di tengah-tengah masyarakat.

Inilah wujud nyata dari sikap memadukan ilmu dan amal. Sudahkah kita melakukannya? WalLahu a’lam bi ash-shawab. []

Lihatlah ke Bawah, Jangan ke Atas!

Dalam hal materi, Islam memerintahkan umatnya agar melihat ke bawah, bukan ke atas. Dengan begitu, seorang Muslim akan kian terpacu untuk senantiasa bersyukur.

Demikian pula dalam hal ketampanan/kecantikan. Jika harus membandingkan, bandingkan dengan yang di bawah, bukan dengan yang lebih tampan/cantik, agar kita senantiasa bersyukur.

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari & Muslim).

“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa), maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Al-Munawi mengatakan, jika seseorang melihat orang di atasnya (dalam masalah harta dan dunia), dia akan menganggap kecil nikmat Allah yang ada pada dirinya dan dia selalu ingin mendapatkan yang lebih.

Cara mengobati penyakit semacam itu, hendaklah seseorang melihat orang yang berada di bawahnya (dalam masalah harta dan dunia). Dengan begitu, seseorang akan ridha dan bersyukur, juga rasa tamaknya (terhadap harta dan dunia) akan berkurang. Jika seseorang sering memandang orang yang berada di atasnya, dia akan mengingkari dan tidak puas terhadap nikmat Allah yang diberikan padanya.

Sebaliknya, dalam masalah amal saleh, seorang Muslim harus melihat ke atas –yang lebih saleh dan lebih rajin ibadahnya. Bahkan, ia boleh iri-hati dalam masalah ukhrawi ini sehingga memotivasinya untuk lebih giat beribadah.

“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al Ma’idah: 48)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imron: 133)

Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Apabila engkau melihat seseorang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka unggulilah dia dalam masalah akhirat.

” Wallahu a’lam.*

Hubungan Baik dengan Allah Saja Tidak Cukup

Hablum minallah (hubungan dengan Allah) seperti rajin shalat, puasa, dsb. tidak cukup bagi sorang ahli surga, tapi ia juga harus hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia) berupa akhlak dan perilaku yang baik, termasuk tidak menyakiti tetangga, teman, atau sesama manusia.

Rasulullah Saw menegaskan, “Ittaqillah haytsu ma kunta, wattabi’i saiatil hasanata tamhuha wa khaaliqinnasa bi khuluqin hasanin” (HR At-Tirmidzi). Bertakwalah kepada Allah di mana saja berada, dan iringi perbuatan buruk dengan berbuat baik, maka keburukan itu akan hapus, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan perangai yang baik.

Syahdan, di zaman Rasulullah Saw, ada seorang perempuan yang sangat rajin berpuasa sunnah, apalagi puasa wajib, di malam harinya ia habiskan waktunya dengan shalat dan berdzikir.

Ketika wanita itu meninggal dunia, ada sahabat berkomentar positif : “Alangkah bahagianya dia (wanita itu) karena syurga telah menantinya“. Hal itu ditanggapi oleh Rasul dengan sabdanya “HIYA FINNAR” “Sesungguhnya ia (wanita itu) masuk neraka.” (HR. Hakim).

Dalam hadits lain dikatakan, Nabi Saw bersabda : “Demi Allah, ia bukanlah orang beriman. Ditanyakan kepada beliau, siapakah orang itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab “Orang karena perbuatannya menyebabkan tetangganya merasa tidak aman.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam.

Ancaman Neraka bagi Para Pendosa

Selain penting untuk selalu meyakini adanya surga-sebagai balasan bagi pelaku ketaatan kepada Allah SWT-agar selalu terdorong untuk melakukan amal-amal kebajikan, setiap Muslim sejatinya harus selalu meneguhkan keyakinan dalam dirinya tentang adanya neraka sebagai balasan atas ragam kemaksiatan manusia kepada Allah SWT di dunia. Keyakinan tentang adanya neraka ini penting sebagai salah satu cara agar kita senantiasa hati-hati dan waspada dari segala bentuk perbuatan dosa. Sayangnya, keyakinan semacam ini sering hanya sebatas ada dalam hati dan ucapan di lisan. Pada praktiknya, tak sedikit Muslim yang justru dalam kesehariannya banyak melakukan amalan-amalan ahli neraka; seolah-olah mereka tidak takut terhadap dahsyatnya azab neraka. Buktinya: Korupsi makin menjadi-jadi. Suap-menyuap makin banyak terungkap. Perselingkuhan dan perzinaan makin transparan. Penyalahgunaan narkoba makin terbuka. Perkosaan makin gila. Pamer aurat makin dianggap biasa. Kejahatan makin merajalela. Sebaliknya, penegakkan hukum malah makin amburadul, dan keadilan makin jauh panggang dari api.

Semua itu boleh jadi karena orang saat ini sepertinya sudah tidak merasa takut lagi terhadap ancaman azab neraka. Kesadaran tentang dahsyatnya azab neraka seolah hilang dalam benaknya. Akibatnya, banyak orang tak lagi ragu dan malu untuk melakukan ragam dosa dan kejahatan. Padahal Allah SWT telah berfirman di antaranya (yang artinya): Takutlah kalian terhadap neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan bebatuan (TQS al-Baqarah [2]: 24).

Orang-orang kafir dan yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya (TQS al-Baqarah [2]: 39).

Katakanlah, “Api Neraka Jahanam itu amatlah panas jika saja mereka mengetahuinya.” (TQS at-Taubah [9]: 81).

Tempat mereka adalah Neraka Jahanam sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan (TQS at-Taubah [9]: 95).

Kami menampakkan Neraka Jahanam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas (TQS al-Kahfi []: 100).

Niscaya kalian benar-benar akan melihat Neraka Jahim (QS at-Takatsur []: 6-7).

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami mengganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan (kerasnya) azab (QS an-Nisa’ [4]: 56).

Maka dari itu, Kami memperingatkan kalian dengan neraka yang menyala-nyala; tidak masuk ke dalam neraka itu kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman) (QS al-Lail [92]: 12-16).

Selain sejumlah ayat di atas dan ayat-ayat lainnya yang banyak jumlahnya, ancaman neraka yang amat dahsyat dengan aneka jenisnya juga disebutkan dalam banyak hadis Nabi saw. Di antaranya adalah sabda Nabi saw. yang menyatakan, “Sesungguhnya siksaan paling ringan yang dirasakan ahli neraka pada Hari Kiamat ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya (HR al-Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir).

Demikianlah Allah SWT dan Rasul-Nya mengingatkan manusia mengenai dahsyatnya azab neraka di akhirat nanti. Azab neraka tersebut disediakan bagi orang yang mendustakan petunjuk Allah SWT dan berpaling dari-Nya serta yang gemar berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya. Ironisnya, bukannya takut azab neraka, sebagian dari para pendosa dan pelaku maksiat itu malah ada yang melakukan semua itu dengan perasaan bangga, tanpa ada rasa bersalah atau merasakan penyesalan sedikitpun.

Yang pasti, penyesalan akan mereka rasakan di akhirat nanti, yakni saat Allah SWT meminta pertanggungjawaban atas setiap perbuatan manusia yang dilakukan di dunia. Saat itu seluruh manusia dikumpulkan di Padang Makhsyar. Seluruh manusia tidak diperkenankan berbicara kecuali dengan izin-Nya dan berkata benar (Lihat: QS an-Naba’ [78]: 38). Mereka juga tidak diberikan kesempatan membuat-buat alasan (Lihat: QS al-Mursalat [77]: 35-36). Bahkan mulut mereka pun dikunci dan tidak bisa bicara (Lihat: QS Yasin [36]: 65). Yang akan bersaksi secara jujur adalah tangan dan kaki mereka serta anggota tubuh mereka. Saat itu, satu-satunya hukum yang berlaku untuk mengadili manusia adalah hukum Allah SWT. Saat itu Allah SWT adalah satu-satunya Hakim yang mengadili manusia dengan seadil-adilnya. Allahlah yang akan mengadili semua perbuatan yang menyimpang dari syariah-Nya. Allah SWT pula yang akan menimpakan azab yang keras kepada para pendosa, yang gemar berbuat maksiat saat di dunia. Mereka ini akan dilemparkan ke dalam azab yang mengerikan, yakni neraka yang menyala-nyala. Na’udzu bilLahi min dzalik.

Wa ma tawiqi illa bilLah []

Copyright © 2026 DD Sulsel