Info Kesehatan Rampak Sabita (penguRAngan daMPAK aSAp BagI kesehaTAn) EDISI 2

Pertolongan Pertama Bayi atau Anak Sesak

1. Segera cari tempat yang nyaman.

2. Posisikan bayi atau anak dalam keadaan duduk atau setengah duduk
3. Jangan posisikan bayi/anak sesak dgn posisi tidur (tidur dapat menyumbat saluran nafas).
4. Longgarkan pakaian.
5. Oleskan balsem hangat atau minyak telon  di dada, punggung atau diciumkan didepan hidung.
6. Jangan pernah panik, ajaklah anak bicara untuk membuat rileks
7. Pijat lembut jangan terlalu keras daerah antara jempol kaki dan jari telunjuk kaki, sebagai daerah persyarafan paru.
Jika semua langkah diatas belum ada perbaikan segeralah ke fasilitas kesehatan yang terdekat, sebarkan semoga membantu sahabat dan saudara kita yang tengah diliputi asap kebakaran hutan 

A Learning and Hope on THK

Bukan sekedar ajang silaturahim, kumpul keluarga atau ajang berbagi kepada yang tidak mampu, lebih dari itu, Idul Adha menjadi momen penting bagi kita untuk mengingat kembali serta merenungkan esensi dari kisah keteladanan nabi Ibrahim AS dan Ismail AS. Belajar tentang keikhlasan dan pengorbananan yang semata-mata sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan atas perintah Allah SWT. Sama halnya dengan berkurban, niatan kita tidak lain adalah karena Allah, sebagai bentuk ketaatan pada sang Rabb kita. Pada hari raya kurban ini, Dompet Dhuafa bergerak di seluruh pelosok negeri, mensyiarkan ajakan berkurban, mengelola kurban dan menebarkannya ke berbagai pelosok Indonesia.
24 September 2015, sebagai salah satu Tim Quality Control  (QC) tebar hewan kurban (THK) Dompet Dhuafa, saya mendapatkan amanah menebar satu ekor sapi di Dusun Lagoci, Desa Timusu, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Bagi saya, ini adalah kali pertama andil dalam proses pelaksanaan kurban. Dari sini saya belajar banyak tentang seluk beluk kurban, bahwa sejak pemilihan hewan ternak yang baik dan sehat sesuai syariat, penyembelihan, hingga penebaran hewan ada standarnya.
Di sini saya memulai perjalanan QC THK. Karena berkantor di kota Makassar, saya meminta saudara dari kampung target THK untuk mencarikan sapi yang sesuai standar dan syariat, usia di atas dua tahun, berat minimal 250 kg, sehat, tanpa cacat, memakanan makanan yang baik serta membelinya langsung dari peternak. Pada hari H, saya sudah berada di dusun Lagoci, sepulang dari shalat Idul Adha segala keperluan dipersiapkan dan sapi disembelih setelah shalat dhuhur. Dibantu oleh imam masjid dan warga sekitar, proses penyembelihan dan pemotongan berjalan lancar. Dari sini saya kembali belajar, mempraktekkan ilmu yang baru saja saya terima dari penyuluhan standar penyembelihan dan pemotongan di Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan, seperti penggunaan pisau tajam untuk menyembelih hewan kurban, perlunya menyiapkan lubang pembuangan darah dan kotoran sapi serta penggunaan plastik bening untuk mengemas daging yang akan dibagikan.
Setelah proses pemotongan dan penimbangan, daging yang telah dikemas dengan kantong plastik bening, ditebar kepada 81 warga desa yang tidak mampu. Proses penebaran sapi dibantu oleh remaja. Jika penebaran hewan kurban di kota harus melalui kupon untuk mengantisipasi kericuhan pada saat antri dan pembagian, di kampung ini panitia membagikan langsung ke setiap rumah warga yang terdaftar. Selain di kampung Lagoci, 27 kantong diantarkan ke kampung Lappa Maluang, sebuah kampung kecil di atas pegunungan. Kampung tersebut termasuk wilayah yang sangat terpencil dan pernah menjadi target misionaris.
Awalnya, keluarga dan warga yang ada di rumah tidak percaya bahwa saya ke kampung tersebut. Pasalnya, hanya ada dua pilihan akses menuju lokasi, melakukan pendakian dengan berjalanan kaki melewati sawah dan kebun-kebun warga di perbukitan atau naik motor melalui akses jalan dari dusun seberang dengan medan terjal dan berbatu besar. Saya mengambil pilihan kedua mengingat sapi yang dibawa cukup berat untuk dijinjing.
Ketika akan berangkat, keadaan sempat tegang. Keluarga berharap agar bukan saya yang ke sana karena akses jalan yang sulit ditambah tidak ada yang tahu pasti jalan menuju ke lokasi tersebut. Setelah meyakinkan mereka dan menemukan ada salah satu adik sepupu yang pernah ke sana beberapa kali, kami berangkat dengan naik motor. Sebelum berangkat saya sudah membayangkan kondisi jalan terburuk yang pernah saya lalui sebelumnya, saya menyiapkan dugaan akan lebih buruk akses jalan yang akan saya lewati kali ini. Dugaan saya terbukti, meskipun tidak kaget dengan jalan terjal, menanjak, licin dan berbatu yang sedang saya hadapi, saya tak hentinya berdzikir dan berdoa. Sesekali mata saya terbelalak, tertutup dan mengencangkan doa. Beberapa kali motor kami kandas tepat di tanjakan terjal.
Sekitar satu jam kemudian, kami tiba di kampung di Lappa Maluang. Rumah-rumah kayu tertata tidak rapi, ada yang berjarak dekat dan jauh, antara satu rumah dengan rumah lain banyak yang terpisah antara kebun. Di jalanan masuk kampung, beberapa rumah terlihat cerah dengan cat kayu yang masih baru, masuk ke dalam mulai terlihat rumah-rumah kayu tanpa cat dan tanpa jendela kaca. Karena beberapa warga di kampung ini telah menjadi korban misionaris dengan keluar dari agama Islam, maka sapi kami tebar melalui Imam masjid kampung untuk memastikan kurban diterima oleh orang yang tepat, namanya Ustadz Amir. Beliaulah yang berjuang untuk mensyiarkan kembali Islam di kampung ini. Setelah diserahkan, kurban ditebarkan oleh Ustadz Imam dan Istrinya.

Aksi THK ini menaruh harapan besar kepada yang berpunya untuk senantiasa ikhlas dan lapang dalam berbagi, harapan besar bagi penerima manfaat agar termotivasi untuk terus memperbaiki kualitas keimanan dan kehidupan sosial, sekaligus menjadi pembelajaran berharga bagi para amil dalam keteguhan menjalankan tugas syiar Islam. 

Dompet Dhuafa berbagi daging kurban di Gusung

Sabtu (25 September 2015), tepat hari tasyrik kedua, Dompet Dhuafa melalui program Tebar Hewan Kurban (THK) menyalurkan satu ekor sapi kurban dari para donatur setia Dompet Dhuafa.

Ada rasa haru terpancar dari raut wajah warga dusun kecil itu. Sehari-dua hari sebelum pemotongan hewan kurban. Ada cerita menarik yang bisa dipetik. Pernak-pernik panitia kurban. Dilema antara Panaikang dan Gusung. Dua lokasi tersebut sama-sama berpotensi Dan layak untuk dijadikan tempat penyaluran daging kurban. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Panaikang, lokasi pertengahan dengan akses cukup mudah untuk melancarkan proses THK, mulai dari transport, alat dan bahan dibutuhkan, hingga panitia sembelih pun ada dan mudah dikoordinir. Penduduk kurang lebih 75 KK dan menjadi salah satu area pennugasan da’i pelosok DOMPET DHUAFA SULSEL. Sementara itu, Gusung, dusun paling ujung dengan jumlah kurang lebih 90 KK, termasuk padat penduduk, pun layak menjadi lokasi THK, di sana juga termasuk area penugasan Dai Pelosok Dompet Dhuafa. Hanya saja, agak susah mencari orang yang bisa menyembelih hewan kurban, sebab di dusun Gusung ternyata tak punya Imam tetap. Biasanya hewan kurban disembelih oleh Imam Kampung. Itulah satu hal unik yang ada di Kab. Pangkep. Imam kampung merupakan tokoh agama yang biasa melakukan prosesi penting pada hari-hari besar, termasuk penyembelihan hewan kurban pada Idul Kurban dan hari tasyrik.
Bukan berarti sama sekali tak ada yang bisa menyembelih, hanya saja, ada patokan harga yang harus dibayar melebihi upah imam yang ala kadarnya, sesuai kemampuan pekurban. Orang Bugis menyebutnya “cenning-cenning ati”istilah dengan definisi “sesuai kerelaan hati”
Berbekal saran dari warga, penanggung jawab THK Bontomate’ne, Dasnah, mengeksekusi lokasi penyembelihan Di Dusun Gusung, tepat sehari sebelum tanggal pelaksanaan. Hewan kurban diantarkan ke lokasi saat maghrib menjelang. Usai maghrib hewan yang akan disembelih pun tiba di lokasi. Seketika, warga berkerumun tak beraturan. Bocah-bocah pun berlari mendekat sambil berceloteh, “sapinya besar sekali”. Kalimat tersebut diulang berkali-kali sambil menunjuk sapi yang siap dikurbankan esok hari. Mereka terlihat bergembira karena dusunnya mendapat jatah hewan kurban.
“Dompet Dhuafa bukan hanya membantu warga dusun kami dari segi penataan nilai agama melalui dai pelosok, tetapi juga membantu memikirkan warga dusun yang jarang menikmati daging karena harga yang selangit melalui program THK ini. Semoga DD makin jaya dan amanah dalam menebar ziswaf para donatur”
Demikianlah ungkapan terimakasih dipaparkan oleh Musnaeni, S.Pd.SD, salah seorang warga dusun Gusungnge yang juga menjadi panitia THK.
Kehadiran Dompet Dhuafa di area itu sudah sangat tepat. Anak-anak yang mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi di dusun Gusung dapat dihitung jari. Hingga saat ini baru tiga orang yang terdata di Perguruan Tinggi, bahkan hampir sebagian besar pemuda turut merantau ke tanah Papua demi mencari mata pencaharian. Rata-rata mata pencaharian mereka adalah nelayan. Rasa syukur warga tak terkira, dapat menikmati daging sapi gratis.
Penyembelihan pun berjalan dengan lancar. Imam Masjid Dan beberapa panitia Panaikang didatangkan ke dusun Gusung untuk menyembelih dan mengukiti hewan kurban. Akhirnya, sebagian penerima THK juga diperuntukkan di Panaikang. Tercatat sebanyak 26 kk penerima manfaat dari Panaikang. Sementara dari Dusun Gusung, tercatat sebanyak 60 penerima manfaat.
Terimakasih Dompet Dhuafa yang telah peduli pada kampung kami, ucap Dg. Pasewang, selaku ketua RK Dusun Gusung, Kel.Bontomatene,Kec. SEGERI KAB.PANGKEP.

#THK : Senyum Merekah Para Santri

Senyum merekah para santri

Tahun ini program Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa Sulsel, Alhamdulillah bisa menjangkau beberapa daerah pelosok sampai 13 Kabupaten yaitu Makassar, Maros, Gowa, Takalar, jeneponto, Bone, Soppeng, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, dan Polewali Mandar. Saya dimandatkan sebagai penanggung jawab area kabupaten Gowa. saya pun mulai menyisir daerah Kabupate Gowa, dan kebetulan saya juga tinggal di daerah Gowa. Akhirnya saya menentukan pilihan penyembelihan dan penyaluran hewan kurban di sebuah tempat bermukimnya anak yatim dan santri tahfidz Qur’an. Pesantren dan Panti Asuhan Darul Istiqomah yang berlokasi di Desa Timbuseng, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa menjadi salah satu titik THK Tahun 2015 Dompet Dhuafa Sulsel. Sebelum saya menentukan tempat ini menjadi menjadi titik THK kali ini, saya beberapa kali berkunjung kesana atau sekedar lewat untuk mengetahui kondisi pesantren tersebut. Kenapa saya tertarik dengan pesantren tersebut karena pesantren ini memiliki panti asuhan untuk anak yatim. Anak yatim di panti ini ada yang masih berusia 3 bulan, mereka dibesarkan dididik agar nantinya bisa menjadi penghafal Al-Quran.

“Pesantren dan Panti Asuhan Darul Istiqomah ini dihuni oleh sekitar 70 an anak Panti, dan 243 anak santri,” ujar ibu Erna istri dari pendiri pesantren. Di area pesantren terdapat pula pendidikan formal dari RA sampai Aliyah. Paginya mereka bersekolah, selepas itu mereka di pesantren untuk menghapal Al-Quran dan memperdalam lagi ilmu agama Islam. Dari informasi ibu Erna pula pesantren ini tahun 2014 sekitar bulan Februari pernah dikunjungi Presiden Peyatim Malaysia, Prof. Dato Dr Tengku Mahmod Mansyor. Beliau juga pemerhati anak yatim dan ingin melihat anak yatim di Indonesia. Pesantren ini dipilih karena memiliki rumah anak yatim. KH. Arif Marzuki pimpinan Pesantren dan Panti Asuhan Darul  Istiqomah, pada kunjungan pertama saya saat mengassetment berujar, “Inshaa Allah bila kita bersama anak yatim, meyayangi dan mengasuhnya, nanti kita akan bersama Rasulullah di akherat.”. beliau menambahkan mendirikan pesantren ini dari nol, “ Saat itu hanya dua orang santri yang dibina, itu pun dari keluarga sendiri, saat ini sudah banyak yang datang dan mondok disini dari berbagai penjuru nusantara, ada dari pulau Jawa, Lombok, Flores, NTT, dan masih banyak lagi.” Beliau sangat senang program Dompet Dhuafa untuk tebar hewan kurban sampai ke pesantrennya. Bahkan beliau berharap agar kedepannya bisa bersinergi dengan Dompet Dhuafa untuk program-program pemberdayaan santri.
Pagi ini, sepulang sholat Idul Adha kira-kira pukul 09.00, saya dan satu rekan saya bergegas ke lokasi tersebut, saya sudah menyiapkan berbagai perlengkapan untuk penyembelihan hari ini. Kami mengemban amanah dari para donatur yang telah mempercayakan kurbannya tahun ini ke Dompet Dhuafa. Alhamdulillah 1 (satu) ekor sapi untuk Kabupaten Gowa sudah ada di lokasi sejak kemarin malam. Hari ini serentak diadakan penyembelihan dan penyaluran hewan Kurban di beberapa daerah yaitu di Makassar, Gowa, Bone, Soppeng, Maros, dan Polewali Mandar.  Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel, bapak Andriansyah bersama keluarga juga turut hadir di lokasi penyembelihan di Kabupaten Gowa. Beliau roadshow ke titik-titik THK pada hari +1 yang berada di sekitar Makassar. Warga pesantren dan beberapa warga sekitar pesantren sudah menunggu kedatangan kami. Ustadz Asri yang akan menyembelih sudah sejak pagi memberi makan sapi sambil menunggu kami.  Penyembelihan dimulai sekitar pukul 10.00, dan berakhir sampai kira-kira sebelum pukul 12.00 siang. Beberapa orang santri dan warga membantu untuk proses ini, ada yang menguliti, memotong-motong, menimbang, dan memasukkan daging ke dalam kantongan, tiap kantongan berisi 1 kg daging yang akan disalurkan ke beberapa warga sekitar pesantren yang tergolong dhuafa, dan tentunya untuk ke panti. Ibu Hajrah Pembina panti sudah siap di lokasi untuk menerima daging untuk dimasak di dapur umum.
Sapi dan daftar nama pekurban 
Puncak prosesi penyembelihan dan penyaluran hewan kurban nomor urut 2 untuk wilayah kabupaten Gowa, ketika pimpinan pesantren KH Arif Marzuki menerima penyaluran hewan kurban secara simbolis dari Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel Bapak Andriansyah. Hewan kurban sapi ini berasal dari kelompok donatur Dompet Dhuafa Sulsel yaitu : 1. Tasmaria Putri; 2. Imelda Salahuddin; 3. Husna Sjiwa; 4. Indrawaty; 5. Novida Tri Wahyuni; 6. Hasmid Jayaputra; dan, 7. Nisa Mulia. Keikhlasan dan ketaqwaan pekurban tertunaikan sudah saat darah mengucur dari leher hewan kurban yang disembelih atas nama Allah. Semoga kurban para donatur tahun ini mendapatkan pahala terbaik oleh Allah SWT, keikhlasan untuk berkurban dan semangat untuk berbagi melalui program Tebar Hewan Kurban  tahun ini bisa lebih luas manfaatnya. “Alhamdulillah, lebaran kali ini bisa makan daging kita,” sahut Marwan santri yang duduk di kelas 2 Tsanawiyah dengan senyum merekah, dan dia tuliskan pula  di form laporan kurban di kolom testimoni penerima daging kurban, yang akan kami serahkan kepada para donatur. Andai Ini Kurban Terakhirku : Memberikan yang terbaik untuk amal terbaik, tema Tebar Hewan Kurba Tahun ini, semoga dapat berjumpa lagi THK tahun depan dan bisa lebih luas lagi menebar manfaat hingga ke pelosok negeri. Senyum ceria dari para penerima kurban memberikan warna dan nuansa tersendiri akan indahnya untuk selalu berbagi.

                >> Efi _ PJ Area Kabupaten Gowa : Desa Timbuseng, Kec. Pattalassaang, 10 Dzulhijjah 1436 H/24 September 2015



Tebar Hewan Kurban Hingga Pedalaman Sulawesi Selatan.

Hari Raya Idul Adha 1436 H sebentar lagi, melalui programnya Tebar Hewan Kurban (THK). Dompet Dhuafa akan menyebarkan daging kurban hingga di pedalaman Sulawesi Selatan. Tebar Hewan Kurban (THK) adalah salah satu program sosial pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Republika sejak tahun 1414 H yang kini menginjak tahun ke 22. Tahun ini tema yang diangkat adalah “Andai Ini Kurban Terakhirku.”. Tema ini bermakna bahwa kurban merupakan bukti ketaatan atas penghambaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu sudah seharusnya mempersembahkan kurban terbaik, seakan tahun ini adalah kurban terakhir sebagai bukti syukur atas semua karuniaNya..
Dompet Dhuafa merupakan Lembaga Nirlaba milik masyarakat Indonesia, berdiri sejak tahun 1993, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf  (ZISWAF) serta dana sosial lainnya. Saat ini DD telah memiliki jaringan pelayanan di 21 Provinsi di Indonesia dan 5 di mancanegara  (Hongkong, Jepang,Korea, Australia dan USA). Dana ZISWAF yang terkumpul disalurkan dalam beragam bentuk program di bidang sosial, pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.

Sejak 2 bulan yang lalu, Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan sudah mempersiapkan program Tebar Hewan Kurban. Hingga saat ini sudah terdapat beberapa target untuk daerah sebaran kurban THK 2015.

Berikuta target daerah sebaran Kurban THK 2015 :
1.  Kota Makassar : Kecamatan Manggala, Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Tamalate, Kecamatan Tallo
2. Kabupaten Gowa : Pesantren dan panti asuhan darul istiqomah, desa timbuseng, kecamatan Patalassang dan Desa borong pa’lala Kecamatan Patalassang.
3. Kabupaten Jeneponto : Dusun Tunrungandrang, Desa Palaju, Kecamatan Arungkeke.
4. Kabupaten Bone : Dusung Awangparareng,  Desa Jali, Kecamatan Awangpone.
5. Kabupaten Maros : Desa Kaemba,
6. Kabupaten Pangkep : Desa Pittusunggu, Kelurahan Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang. Dusun Busunge, Kelurahan Bontangte’ne, Kecamatan Segeri
7. Kabupaten Polman : Desa lamasundu Kec. Limboro,
8. Kabupaten Soppeng : Dusun Lagoci, Desa Timusu, Kecamatan Liliriaja.
9. Kabupaten Selayar :  Dusun Barang-barang, Desa Loa, Kecamatan Bontosikuyu.
10. Kabupaten Bulukumba : Kampung Cori, Dusun Poliwali, Desa Buntumaccina, Kecamatan Gantarang
Daerah target sebaran Kurban THK ini berdasarkan survey dari tim Dompet Dhuafa. Melalui assessment yang dilakukan, ditemukan bahwa daerah target tersebut merupakan tempat tinggal warga dhuafa, beberapa tempat mereka yang mayoritas buruh tani. Selain itu,di beberapa daerah sebaran kurban, mereka adalah penerima raskin. Mereka juga jarang memakan berlauk pauk ikan, apalagi ayam dan daging. Bahkan ada beberapa daerah yang hanya menyentuh daging sekali setahun. Itupun jika mereka mendapatkan sebaran daging kurban.

Berkurban disunahkan bagi setiap Muslim yang memiliki keluasan rezeki. Berkurbanlah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, berkurbanlah untuk menghembuskan angin segar di tengah segala kesulitan hidup. Berkurbanlah bagi mereka, seolah ini kurban terakhir kita. 

Copyright © 2026 DD Sulsel