Cerita seorang penjual hewan kurban

Yuk di baca! 😀
ngga rugi kok. 🙂
Setelah melayani pembeli, saya melihat seorang ibu sedang memperhatikan dagangan kami.
Dilihat dari penampilannya sepertinya dia tidak akan beli.
Namun saya coba hampiri dan menawarkan. ‚” Silahkan bu..”
“Kalau yang itu berapa bang?‚ Ibu itu menunjuk kambing yang paling agak kecil.
“Kalau yang itu harganya Rp 600ribu bu”, jawab saya.
“Harga pasnya berapa?”
“500ribu deh. Kalau mau silahkan..”
“Uang saya Cuma ada 450ribu, boleh gak?”
Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug. ‚” Bismillah ambilah Bu “kata saya.
Saya pun mengantar kambing ibu.
Ketika sampai di rumah ibu tersebut, saya terkejut..!.
“Astaghfirullaah.. Allahu Akbar..!”
Terasa mengigil seluruh badan saya ketika melihat keadaan rumah ibu tersebut.
Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan ibu dan satu orang anaknya di rumah gubuk berlantai tanah.
Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.
Diatas dipan, sedang tertidur seorang nenek tua kurus.
” Mak..bangun mak, nih liat Sumi bawa apa…”
Perempuan tua itu terbangun.
“Mak , Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak…”
Orang tua itu kaget namun terlihat sorot bahagia di matanya.
Sambil mengelus-elus kambing, orang tua itu berucap, “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga emak berqurban…”
“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau saya niatkan buat qurban ibu saya…”
Duh GUSTI… Ampuni dosa hamba… Hamba malu berhadapan dengan hambaMU yg satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar kalimat dari ibu ini.
“Bang nih ongkos bajajnya.!” panggil si Ibu.
“Sudah bu, biar ongkos bajaj saya yang bayar.”
Saya buru buru pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah swt
Semoga cerita ini bermanfaat..
Bobby Herwibowo

Asa Nenek Sebatang Kara

Kemarin (2 September 2015) saat berkunjung ke Kelurahan Minasatene Kabupaten Pangkep tepatnya di SMK 1 Minasatene, dengan tujuan kami ingin mensurvei calon penerima manfaat program Mariki’ Sekolah (Program Beasiswa DD Sul-Sel) yang mengajukan permohonan kebutuhan sekolah ke Dompet Dhuafa Sulsel. Salah seorang guru BK (Bu Tini) yang katanya ada seorang nenek yang keadaannya sangat memprihatinkan, Bu Tini banyak bercerita tentang keadaan nenek ini yang membuat kami penasaran dan berniat untuk mengetahui lebih jauh keadaan nenek tersebut. Setelah berbincang-bincang lama dengan Bu Tini, kami pun bergegas ke rumah nenek untuk melihat langsung kondisinya.
Nenek Hanija dengan pelita dirumahnya 
Nenek Hanija (74 tahun), tinggal di tengah-tengah pematang sawah yang jarak rumahnya tidak begitu jauh dari Leang Kassi, Pangkep. Rumah panggung beratapkan seng yang sudah tak layak pakai menjadi tempat berteduh Nenek Hanija, rumah tersebut merupakan satu-satunya peninggalan dari orang tuanya. 

Sembari kami berjalan di tengah-tengah sawah yang kering, Nenek Hanija pun menyapa kami dengan bahasa daerah yang digunakan “Kemai ki….? (mau kemana…?)” ujarnya sambil tersenyum, karena kami tidak begitu paham dengan bahasa Nenek Hanija gunakan, maka Bu Tini lah yang membantu kami menerjemahkan apa yang dikatakan Nenek Hanija begitupun dengan apa yang kami katakan kepada sang nenek. Umurnya yang sudah tidak muda lagi membuat pendengaran nenek Hanija tidak begitu baik, terkadang apa yang kami tanyakan dijawab dengan jawaban yang berbeda. Nenek hanija tinggal sebatang kara yang berstatus belum menikah,  keadaan beliau pun saat kami temui tergolong kotor, tidak terurus, dan tempat beliau tinggal berbau -maaf-pesing.

Kehidupan yang dijalani oleh Nenek Hanija memang sangat memprihatinkan, aliran listrik ke rumahnya belum ada, selain karena kondisi beliau tidak memungkinkan untuk mengurus pengadaan listrik di rumahnya juga karena tidak ada biaya untuk pembayaran listrik perbulan, setiap malam Nenek Hanija hanya bermodalkan pelita untuk menerangi rumahnya. Kebutuhan sehari-hari Nenek Hanija didapat dari hasil memulung plastik-plastik bekas yang kemudian dijual ke tukang loak, tapi itu dulu sebelum beliau sakit. Sekarang Nenek Hanija tidak bisa lagi beraktivitas seperti biasanya, beliau hanya mengharap uluran tangan tetangga yang masih peduli dengan kondisinya. Tidak ada suami, tidak punya anak, semua saudaranya pun meninggal karena sakit dan sebab lainnya. 
Kebutuhan makan sehari-hari seperti beras diberikan langsung oleh pihak pemerintah setempat.

Rasa iba pun muncul dibenak kami melihat keadaan nenek hanija yang hidup sebatang kara, tanpa berfikir panjang kami pun bergegas ke pasar untuk belanja kebutuhan sehari-hari sang nenek.

Selain sembako, kami juga memberikan santunan uang tunai untuk kebutuhan lain beliau.

pa’risi bantangku tena nganre juku, doena ero’ ku paballi juku” (sakit perut saya karena tidak pernah makan ikan, uangnya ingin saya gunakan buat beli ikan), ujarnya sambil tertawa. (Nurwana)

Dompet Dhuafa buka Counter di 7 titik keramaian di kota Makassar

Counter Kurban di Carefour Pengayoman
Hari raya kurban merupakan hari raya umat Islam yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah tahun Hijriyah. Pada hari ini diperingati peristiwa kurban yaitu ketika Nabi Ibrahim (A.S) yang bersedia untuk mengorbankan putranya Ismail (A.S), kemudian digantikannya oleh-Nya dengan seekor domba. Pada hari raya Idul Adha, kaum Muslimin selain dianjurkan melakukan Shalat Sunnah 2 Rakaat, juga dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim (A.S) kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail (A.S)
Sebagai lembaga penyalur ZISWAF terkemuka di Makassar, Dompet Dhuafa juga harus memberikan kemudahan kepada donaturnya agar tetap bisa beramal dalam bentuk Zakat, Infaq, Sedekah, Wakaf atau bahkan Kurban. Karena tidak semua donatur punya waktu untuk mengunjungi kantor Dompet Dhuafa Sulsel.
Counter Kurban di Lotte Mart Alauddin
Kini berkurban lebih mudah bersama Dompet Dhuafa. Menjelang hari raya kurban, Dompet Dhuafa telah membuka counter khusus pelayanan kurban untuk memudahkan donatur dalam menunaikan Kurban atau juga untuk sekedar Zakat, Infaq, Shodaqoh, Wakaf (ZISWAF).
“Kami memberi kemudahan bagi para donatur yang ingin berkurban. Jadi kami membuka Counter counter di 7 titik pusat keramaian di Makassar” Ungkap Manajer Fundrising Efitrianti Nur, pada prescon kamis lalu.

Selama kurang lebih 20 hari Dompet Dhuafa Sulsel membuka counter di 7 titik pusat keramaian di 6 pusat perbelanjaan dan 1 restoran di kota Makassar. Seperti di antarnya Mall Ratu Indah, Careffour Pengayoman, Lotte Mart Alauddin, Makassar Town Square, Ramayana Pettarani, Trans Studio Mall dan Rumah Makan Wong Solo dan juga layanan jemput kurban. Counter Kurban Dompet Dhuafa buka setiap hari sejak hari Jumat, 4 September 2015 mulai pukul 11.00 wita s/d 19.00 wita.

Aksi Kampanye Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa Sulsel

Minggu, 6 September 2015 Dompet Dhuafa Sulsel. menggelar kegiatan kampanye mengenai program Tebar Hewan Kurban (THK) dalam Car Free Day di Pantai Losari.

Masyarakat yang antusias berfoto bersama Bang Sidik

Kampanye tersebut menarik perhatian pengunjung Pantai Losari yang berlalu lalang melewati wilayah kampanye Dompet Dhuafa. Kurang lebih 100 pengunjung juga mengabadikan momen tersebut dalam bentuk pengambilan gambar bersama Bang Sidik dan anak anak Sekoci (Sekolah Cerdas Indonesia).
Kegiatan yang tergolong singkat tersebut berhasil memberikan pemahaman dan kesadaran kepada sebagian Masyarakat Makassar mengenai betapa pentingya berkurban itu. Alhasil, tidak sedikit pula warga yang berhenti sejenak untuk sekedar bertanya tanya mengenai bagaimana proses kegiatan kurban yang akan dilaksanakan oleh Dompet Dhuafa. Para Fundriserpun tiada hentinya menjelaskan kepada beberapa Bapak Ibu yang sangat dengan antusias melontarkan pertanyaan pertanyaan seputar kurban. Para Fundriser menjelaskan bahwa daging hasil kurban akan di salurkan ke 9 Kabupaten di Sulawesi Selatan dan diharapkan tepat sasaran yakni kepada masyarakat yang sangat jarang menikmati daging kurban atau bahkan yang belum pernah sekalipun mencicipinya.

Anggota Fundriser menejelaskan mengenai program THK

Harapan pihak Dompet Dhuafa sebagai penyalur ZISWAF adalah memberikan kesadaran kepada Masyarakat akan pentingnya berkurban mengingat bahwa Ibadah Kurban adalah salah satu bentuk berbagi kepada sesama Muslim yang kurang beruntung. Pahala berkurban juga sama dengan pahala naik Haji jadi untuk apa di tunda tunda.

Press Conference Tebar Hewan Kurban 2015 “Andai Ini Kurban Terakhirku”

Dompet Dhuafa (DD) Republika adalah Lembaga Nirlaba milik masyarakat Indonesia, berdiri sejak tahun 1993, yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan dengan mendayagunakan dana Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf  (ZISWAF) serta dana sosial lainnya. Saat ini DD telah memiliki jaringan pelayanan di 21 Propinsi di Indonesia dan 5 di mancanegara  (Hongkong, Jepang, Korea, Australia dan USA). Dana ZISWAF yang terkumpul disalurkan dalam beragam bentuk program di bidang sosial, pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.
Tebar Hewan Kurban (THK) adalah salah satu program sosial pemberdayaan yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa Republika sejak tahun 1414 H yang kini menginjak tahun ke 22. Tahun ini tema yang diangkat adalah “Andai Ini Kurban Terakhirku.”. Tema ini bermakna bahwa kurban merupakan bukti ketaatan atas penghambaan kepada Allah SWT. Oleh karena itu sudah seharusnya mempersembahkan kurban terbaik, seakan tahun ini adalah kurban terakhir sebagai bukti syukur atas semua karuniaNya.
Kenapa Kurban ke THK Dompet Dhuafa.
Penyaluran Hewan Kurban melalui Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa berkonsep memuliakan dengan mengedepankan masyarakat di daerah-daerah terpencil, miskin, terbelakang, rawan gizi dan rawan aqidah. Distribusi kurban juga merambah kepada saudara-suadara kita yang tinggal di daerah bencana dan kerusuhan, yang mana di tahun ini juga menyasar pengungsi Rohingya di Aceh serta korban konflik Tolikara, Papua. Penyaluran tersebut dilakukan melalui mitra Pemberdayaan Kampung Ternak Nusantara di daerah setempat.
Program THK Dompet Dhuafa dihadirkan dengan beragam kemudahan baik bagi pekurban maupun penerima manfaat daging kurban, karena mengedepankan sistem pemerataan. Seperti yang telah berjalan pada 2014, penyaluran hewan kurban mencakup 4.155 desa, 375 kecamatan, 214 kabupaten dari 33 Provinsi di Indonesia. Bahkan hingga mancanegara di 6 (enam) negara seperti Filipina, Kamboja, Vietnam, Myanmar-Rohingya, Thailand, Timor Leste, serta Gaza –Palestina pun menerima distribusi hewan kurban dari program THK Dompet Dhuafa.
Target distribusi kurban pada 2015 sebanyak 20.000 ekor setara kambing dan target penerima manfaat lebih 63.133 Kepala Keluarga (KK) dengan daerah distirbusi dari Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Tolikara-Papua dan luar negeri seperti Gaza-Palestina, Myanmar, Filipina dan Kambocja.
Khusus untuk Sulawesi Selatan, target penerima manfaat kurang lebih 1.000 orang dengan penyaluran kurban kurang lebih 75 – 100 ekor. Hewan kurban akan disalurkan di beberapa target wilayah dhuafa yang jarang tersentuh.
Wilayah target sebaran program THK DD Sulsel Tahun 2015, adalah sebagai berikut :
1. Kota Makassar : di Kec. Panakkukang, Kec. Tamalate, Kec. Biringkanaya, Kec. Manggala, target 300 penerima manfaat;
2. Kab. Maros : di Desa Kaemba sekitar 100 penerima manfaat;
3. Kab. Gowa : di Dusun Japing dan Borong Pala’la Kec. Pattallassang, sekitar 100 penerima manfaat;
4. Kab. Jeneponto : di Desa Palajau, Dusun Tunrunggandrang Kec. Arongkeke, sekitar 100 penerima manfaat;
5. Kab. Bone : di Dusun Awangpasareng, sekitar 100 penerima manfaat;
6. Kab. Soppeng : di Desa Timusu, Dusun Lagoci, sekitar 100 penerima manfaat;
7. Kab. Pangkajene dan Kepulauan : Desa Pitusunggu; Kec. Ma’rang sekitar 100 penerima manfaat;
8. Kepulauan Selayar : Dusun Barangbarang, Desa Loa, Kec. Bontosikuyu, sekitar 100 penerima manfaat;
9. Kab. Polewati Mandar Prov. Sulawesi Barat : di desa Lamasundu, Kec. Limboro, Kab Polman, sekitar  100 penerima manfaat.
Kurban Memantik Kesalehan
Kurban  yang memiliki makna kedekatan, mengingatkan kita pada salah satu persitiwa paling sacral sepanjang perjalanan umat manusia, yaitu sebuah hikayat tentang kesalehan yang menghantar manusia pada kedekatan Rabb-nya. Sejarah kesalehan nabi Ibrahim dan putranya ismail menorah banyak ibra atau pembebasan atas tanggung jawab dari sebuat tanggungan bagi kaum muslimin. Sepasang bapak dan anak pilihan Tuhan itu piawai dalam memanajemen hati dan hawa nasfu dalam melakukan proses muraqabah atau menyerahkan rezeki kepada Allah SWT. Bulan Dzulhijjah datang menjemputm dan selalu mengingatkan kita akan 2 (dua) peristiwa sacral sepanjang perjalanan manusia, yaitu Haji dan Kurban.
Haji, yang sarat pesan moral akan kerendahan hati dan sikap tawadhu menapaktilasi proses pengorbanan dan perjuangan keluarga Nabi Ibrahim As dalam meraih kesalehan. Sampai kini panggilan haji menjadi buluh perindu bagi hamba Allah sebagai proses muraqabah untuk meraih kemabruran. Sementara itu, kurban menjadi sejarah monumental yang tak tergeserkan. 

Andai Ini Kurban Terakhirku.
Fenomena kuban melahirkan kesalehan pribadi dan kesalehan sosial pada diri pekurban. Hewan yang dikurbankan menjadi symbol pengikis nafsu hewani yang ada pada manusia, yaitu sifat egois, serakah, rakus, ingin menang sendiri dan merasa paling hebat. Semangat kedekatan kepada sesame terpancar indah saat kurban telah ditunaikan.
Kurban sarat  dengan hikmah berbagi dan peduli. “Andai ini kurban terakhirku” merupakan symbol sebuah kedekatan diri yang dibangun dengan sentuhan iman karena melahirkan persaudaraan kepada sesame, berusahan memberikan hewan kurban terbaik yang sehat dengan senyum bahagia untuk Saudara kita yang ada di pelosok negeri, dipojok dusun, desa tertinggal yang jarang sekali menikmati lezatnya daging kurban.
Ketika kurban ditunaikan, senyum kegembiraan kaum papa merekah tatkala menerima daging kurban yang jadi penghancur dinding keangkuhan sosial. Tak ada lagi dikotomi ditengah masyarakat, karena simpul keharmonisan telah terjalin oleh tetesan darah hewan kurban.
Paket Kurban DD Sulsel Tahun 2015 :
Kambing Standar senilai Rp. 2.200.000 dengan bobot 25kg-30kg
Sapi senilai Rp. 10.500.000 dengan bobot 290kg-300kg
1/7 Sapi senilai Rp. 1.500.000 
Sapi Premium senilai Rp. 13.300.000 dengan bobot 350-360kg

Konter Layanan Kurban :
Masa operasional 4 – 23 September 2015
1. RM. Ayam Bakar Wong Solo
2. Trans Studio Mall, LG depan ShabuQi                     
3. Mal Ratu Indah, Lt. 3 depan tenant Eiger             
4. Ramayana Pettarani, depan pintu masuk
5. Lotte Mart Alauddin, depan pintu masuk
6. M’Tos Perintis, depan pintu masuk
7. Carrefour Pengayoman, depan pintu masuk
Atau dapat melalui Gerai Mitra Dompet Dhuafa Sulsel :
1. Butik Siti Hajar, Jln. Pengayoman No. 38
2. Super Thibbun Nabawi, Jln. Aroepala, Perum Gosyen Indah No.1
3. BMT Insan Mandiri, Jln. P. Kemerdekaan, Km.8 Ruko PBC No. 003
4. KSP Bhakti Huria, Jln. Mallengkeri Raya No. 34
5. Seluruh cabang I – Khalifah Bimbingan Belajar di Makassar
6. Azka Salon dan Butik, Jl. Perintis Kemerdekaan, Km. 9, Ruko HCC Blok A/1
7. Azka Salon dan Wedding Organizers, Jln. Abd. Dg. Sirua No. 97 A

                                                           

Layanan Jemput Kurban >> 0853 732 11111
Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan
Kantor : Jl. Abdullah Dg Sirua No. 170 A, Makassar, Sulawesi Selatan
Telp (0411) 459 068/0853 732 11111 – www.ddsulsel.org

Kado Merdeka Untuk Penjaga Pahlawanku

MAKASSAR-banyak kegiatan yangg dilakukan oleh warga Indonesia dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia, begitu juga dengan Dompet Dhuafa Sulsel, Minggu 16 agustus 2015 lalu membagikan kado kepada Penjaga makam pahlawan yg ada di makam pangeran di ponegoro, makam pahlawan Panaikang, dan penjaga makam pahlawan Sultan Hasanuddin.
Penjaga Makam bisa jadi profesi yang dibutuhkan masyarakat tapi kurang mendapat perhatian, tidak jarang mereka hanya mendapatkan penghasilan jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP).
Bulan Agustus ini dalam rangka memperingati Keerdekaan Indonesia Dompet Dhuafa Sulsel ini Pos Kemanusiaan menggulirkan program Kado Penghargaan bagi penjaga Makam pahlawan.
General Manager Program pendayagunaan, Yusran, menjelaskan Kado Merdeka untuk penjaga Makam di gagas sebagai bentuk penghargaan dan kepedulian kepada orang-orang yang sangat berjasa bagi kehidupan banyak orang namun kerap terlupakan. Tanpa kehadiran mereka, ada rantai keseimbangan sistem masyarakat yang limbung.
“sebagai contoh tanpa hadirnya penjaga makam terkhusus penjaga makam pahlawan, apa jadinya makam-makam pahlawan di kota Makassar? Mereka yang tak tidur di saat orang-orang terlelap” katanya.
Program kado Merdeka untuk penjaga makam pahlawan ini di distribusikan ke penjaga makam Pangeran Diponegoro, penjaga makam Sultan Hasanuddin, dan penjaga makam pahlawan Panaikang.
Usaha mereka terasa oleh masyarakat namun kadang masyarakat melupakannya.
“Penghargaan kepada mereka yang tetap giat bekerja, hidup dari hasil keringat sendiri”

Copyright © 2026 DD Sulsel