Memasuki Musim Panen, Petani Kopi Patongko Membuka Jalur Kendaraan Menuju Rumah Kopi

Memasuki Musim Panen, Petani Kopi Patongko Membuka Jalur Kendaraan Menuju Rumah Kopi

Memasuki musim panen kopi yang akan dilakukan pada paruh kedua tahun 2021 ini, petani kopi dan penerima manfaar program Kopi Pattongko yang bermukin di  sekitar Rumah Olah Kopi Pattongko Sinjai menggelar kerja bakti pembuatan lorong pada Selasa (30/03/2021).

Kerja bakti ini dilakukan dari area jalan kebun menuju Rumah Olah Kopi Pattongko di Sinjai. Gotong royong ini diinisiasi oleh petani karena sulitnya akses jalanan dari kebun  menuju rumah olah kopi.


Sebelumnya, para petani kopi ini selalu membawa hasil kopi dengan cara memikul kopi dan berjalan kaki. Tentu cara seperti ini terbilang sulit dan perlu dibenahi. Nah oleh karena itu, untuk memudahkan para petani membawa hasil panen kopi, para petani melakukan pembukaan jalan guna membuat akses jalan untuk kendaraan roda dua yang dapat digunakan.

Pembukaan jalan ini dilakukan oleh petani bersama team Kopi Pattongko di sepanjang kurang kebih 200 meter dengan menggunakan alat seadanya, yaitu cangkul, linggis, dan berbagai peralatan kebun, untuk memindahkan bebatuan besar.

“Rencananya, setelah jalan ini jadi, petani akan membuat jembatan bambu menyeberangi sungai, yang bersebelahan langsung dengan Rumah Olah Kopi, sehingga aktivitas proses kopi dan berbagai aktivitas lainnya, makin berjalan dengan lancar, dalam menunjang pergerakan ekonomi petani,” ujar Ramly selaku pendamping program Kopi Pattongko Dompet Dhuafa Sulsel.

Menuju Ramadhan, Dompet Dhuafa Lakukan Survei Da’i Pedalaman

Menuju Ramadhan, Dompet Dhuafa Lakukan Survei Da’i Pedalaman

Bulan Ramadhan akan segera tiba. Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketakwaan, dikarenakan bulan ini memiliki banyak keutamaan. Pada Ramadhan kali ini, Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan akan kembali melaksakanan program Dai tahunan untuk pelosok dalam membantu masyarakat muslim meningkatkan amal ibadah.

Program Da’i Pedalaman ini merupakan salah satu program dakwah Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem masyarakat 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) yang islami dan mampu berdaya berdasarkan local wisdom wilayah. Pada Ramadhan tahun 2021, program da’i pedalam akan menyasar 7 Kabupaten di SULSELBAR dan menempatkan da’i pada daerah-daerah pelosok untuk memaksimalkan pengelolaan masjid dan kegiatan dakwah selama sebulan penuh di bulan ramadhan.

Selama 4 hari, sejak (24/03/2021) hingga (27/03/2021) tim Dompet Dhuafa telah melakukan proses survei dengan mendatangi wilayah-wilayah yang berpotensi diadakan syiar da’i pedalaman. Wilayah-wilayah tersebut yaitu di Kabupaten Barru, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Soppeng. Lokasi yang di pilih berdasarkan informasi yang diperoleh dari warga sekitar yang menurut mereka kondisi keagamaannya yang butuh untuk didampingi.

Pada (24/03/2021), tim DD Sulsel memulai perjalanan dengan target lokasi pertama yaitu Desa Pujananting dan Desa Bulo Bulo yang merupakan desa yang menjadi daerah perbatasan antara Kabupaten Pangkajene Kepulauan dan Kabupaten Barru. Jarak Desa Pujananting dari Kota Barru sekitar 43 KM atau berkisar 1 jam 50 menit perjalanan menggunakan mobil. Sedangkan jarak desa Bulo Bulo dari kota Kabupaten Barru sekitar 55 KM dari Kota Barru dengan estimasi perjalanan kurang lebih 2 jam perjalanan menggunakan mobil.

“Menurut informasi dari Imam dusun yang diwawancarai menyatakan bahwa kondisi spiritual masyarakan desa Pujananting tergolong rendah, contohnya jika shalat wajib magrib dan subuh jamaah sekitar 10 orang dan waktu shalat dhuhur dan ashar hanya 2-3 orang yang datang kemasjid, sedang jumlah Kepala Keluarga yang ada disana ada sekitar 73 kepala keluarga”, sebut Rahman, Penanggung Jawab Program Pendidikan dan Dakwah.

Survei di hari kedua (25/03/2021) dilaksanakan di kabupaten Toraja Utara di daerah kampung Orongan, Kecamatan Rantebua, Kabupaten Toraja Utara. Jarak dari makassar ke Rantebua yaitu sekitar 305 KM dan 42 KM dari kota kabupaten toraja. Kondisi masyarakat muslim di Kampung Orongan tergolong minim. Hanya ada 34 KK yang muslim, dan jarak antar rumah  berjauhan sehingga masyarakat muslim hanya berkumpul jika ada kegiatan-kegiatan tertentu saja.

Dari yang disampaikan bapak Rantelino selaku KUA disana, pemahaman masyarakat Orongan juga masih rendah dalam hal agama, jangankan dalam shalat 5 waktu, terkadang untuk shalat jum’at saja yang datang ke masjid hanya 2-3 orang, sehingga yang dilaksanakan hanya shalat dhuhur. Tidak hanya itu, kegiatan anak-anak dalam mengaji juga kurang, begitu juga pengajian orang dewasa. Hal ini di karenakan semua warga jika siang hari berada di ladanga masing masing untuk menggarap pertanian mereka yang menjadi tumpuan utama dalam kehidupan mereka di kampung.

Sehingga untuk memaksimalkan dakwah disana di butuhkan terobosan baru dalam berdakwah misalnya dakwah di tiap rumah warga dan sejenisnya. Karna jarak antar masjid dan rumah warga yang berjauhan.

Survei ketiga (26/03/2021) berada di kabupaten Enrekang, tepatnya di desa Potokullin yang berada di Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, sekitar 272 KM dari Kota Makassar dengan jarak tempuh sekitar 7 -8 jam dengan kendaraaan roda empat. Jarak dari ibu kota kabupaten sekitar 53 KM atau sekitar 2 – 3 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Desa Potokullin merupakan desa kedua terakhir sebelum pendakian ke Gunung Latimojong.

Kondisi masyarakat dilihat dari keagamaan sudah cukup baik meskipun berada dipedalaman, tingkat kesadaran beribadah masyarakat salah satunya dapat dilihat dari banyaknya warga yang datang untuk shalat jum’at, namun dari informasi yang disampaikan oleh pak Imam dusun, bacaan sahalat dan gerakan shalat warga masih banyak yang salah dan untuk membantu membenarkan bacaan dan gerakan shalat mereka butuh waktu dan pembinaan yang lama, dan tidak ada yang bisa melakukan pembinaan tersebut. Untuk focus pembinaan lebih di kembangkan kepada pengajian orang dewasa untuk membina keagamaan warga disana.

Survei hari ke empat (27/03/2021) dilakukan di Kabupaten Soppeng dengan mendatangi 2 desa yaitu desa Patampanua dan desa Marioriaja. Jarak desa marioriaja dari makassar adalah 151 KM dengan jarak tempuh perjalanan sekitar 4 jam perjalanan. sedang jarak dari kota soppeng adalah 36 KM atau sekitar 1 jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Adapun jarak antar kedua desa tersebut 61 KM dengan estimasi perjalanan 2 jam perjalanan. Setelah melakukan survey di dua desa tersebut, akhirnya Tim DD  memilih Desa Marioriaja sebagai lokasi dai pedalaman tahun 2021. Hal ini dikarenakan Dompet Dhuafa tidak hanya ingin ingin menjalankan misi dakwah yang mana meningkatkan kesadaran masyarakat dalam beribadah, namun juga bertujuan untuk menginisiasi program pemberdayaan di wilayah penempatan.

Selama proses survei tersebut, beberapa kendala ditemui oleh Tim DD yaitu akses lokasi tidak memadai, beberapa jalanan terbilang rusak dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda 4 apalagi saat musim hujan tiba. Tapi semoga ini bukan jadi halangan untuk menyalurkan kebaikan. Karena Ramadhan saatnya kita berbagi lagi.

Selain 4 wilayah tadi, Dompet Dhuafa juga akan mengirimkan Dai ke 3 wilayah di Sulawesi Barat yaitu di Kabupaten Polewali Mandar, Majene dan Mamuju. Direncanakan pengiriman Dai Pedalaman ini akan dilakukan pada H-2 Ramadhan dan akan ditarik pada pekan pertama bulan Syawal.

Dompet Dhuafa Lakukan Layanan Skrining Ketuk Pintu dan Bantuan Gizi Pasien TB

Dompet Dhuafa Lakukan Layanan Skrining Ketuk Pintu dan Bantuan Gizi Pasien TB

Setiap tanggal 24 Maret, diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Peringatan hari tersebut bertujuan untuk membangun kesadaran masyarakat umum tentang penyakit Tuberkulosis atau TB, serta usaha-usaha untuk mengurangi penyebarannya.

Saat ini, TB merupakan penyakit serius yang menyerang paru-paru dan menyebabkan kematian bagi penderitanya bila tidak diobati dengan tepat. Dilansir dari WHO, setiap harinya ada hampir 4.500 orang kehilangan nyawa karena TBC dan hampir 30.000 orang jatuh sakit karena TB. Padahal, penyakit ini dapat dicegah dan disembuhkan.

Dalam rangka memperingati Hari Tuberkulosis  Sedunia, Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan (DD Sulsel) melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan (LKC DD Sulsel) mengadakan kegiatan penyuluhan kesehatan gratis dan melakukan investigasi kontak atau ketuk pintu untuk menjaring suspek TB. Juga, memberikan paket bantuan perbaikan gizi kepada para pasien TB yang telah terdaftar.

Layanan kesehatan ketuk pintu dan bantuan perbaikan gizi ini dilakukan di 2 wilayah berbeda, yaitu di Jalan Adyaksa Baru RW 02  Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, dan Kelurahan Mattiro Sompe, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Pulau Balang Lompo, Kabupaten Pangkep, pada (25/4/2021) mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WITA.

Berdasarkan data yang terhimpun, ada 13 penerima manfaat bantuan gizi dari Dompet Dhuafa berupa beras, susu, telur, madu, minyak goreng, tepung terigu, gula, dan abon. Sedangkan, layanan ketuk pintu berupa skrining atau deteksi dini untuk menjaring suspek TB, menjangkau 112 rumah di Kelurahan Mattiro Sompe dan di RW 02 Kelurahan Pandang.

Dari hasil pemeriksaan, ada tujuh warga yang ditemukan memiliki gejala TB. Ketujuh warga ini nanti akan dirujuk ke Puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Kegiatan layanan kesehatan ketuk pintu ini dilakukan untuk menjaring suspek TB dan memberikan penyuluhan kepada lingkungan terindikasi penyakit TB tentang gejala, pencegahan dan pongobatan yang harus ditempuh. Dan tidak hanya itu, skrining ini juga membantu untuk meningkatkan kesadaran warga tentang bahaya penularan TB,” kata Rahmawati Mustamin, Staf Pengelola Program LKC.

Senada yang dikatakan Rahma, Imran, selaku penanggung jawab program kawasan sehat LKC menambahkan bahwa sasaran dari kegiatan ini adalah warga yang tinggal di kawasan sehat LKC DD Sulsel yang merupakan pasien Tuberkulosis dan tetangga dari pasien Tuberkulosis.

“Selain itu, tidak hanya sebagai bentuk peringatan Hari TB Sedunia, namun juga untuk meringankan beban para mustahik yang merupakan pasien TB agar menciptakan lingkungan sehat yang bebas TB,” kata Imran.

Diana, pasien TB yang kini tengah menjalani masa pengobatan 6 bulan mengucapkan terima kasih atas kepedulian Dompet Dhuafa atau kepedulian terhadap gejala TB. Serta, atas bantuan paket asupan gizi yang diberikan. Hal ini, kata dia, sangat membantunya dalam meningkatkan daya imunnya.

“Terima kasih Dompet Dhuafa atas bantuan paket gizinya,” ucapnya.

Rahma juga menjelaskan bahwa target awal skrining layanan ketuk pintu LKC ini adalah 250 rumah. Namun, rupanya banyak ditemukan rumah kosong karena penghuninya sedang bekerja sehingga tidak dilakukan skrining,” terang Rahma.

Kegiatan layanan ketuk pintu ini juga didukung oleh para Dompet Dhuafa Volunteer (DDV), Kader Kampung Cekal Corona dan Kawasan Sehat LKC yang sebelumnya pada (24/3/2021) telah diberi pembekalan materi langkah-langkah skrining untuk menjaring suspek TB baru.

Sambut Hari TB 2021, LKC-DD Sulsel Gelar Pelatihan Ketuk Pintu

Sambut Hari TB 2021, LKC-DD Sulsel Gelar Pelatihan Ketuk Pintu

Peringati TB Day atau Hari Tuberkulosis Sedunia yang jatuh pada tanggal 24 Maret, LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma) Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan gelar pelatihan ketuk pintu kepada para kader kesehatan dan relawan di Pulau Batang Lompo, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Kec. Liuakang Tuppa Biring, Kelurahan Mattiro Sompe dan di Aula LKC Dompet Dhuafa Sulsel Jl. Abdullah Daeng Sirua No.170 A, Pandang, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan  Rabu (24/3).

“Pelatihan kader dilaksanakan di Aula Puskesmas Liukang Tuppa Biringing Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan dari jam delapan pagi sampai jam dua siang” ujar Imran selaku penanggung jawab kegiatan.

Kader yang hadir sebanyak delapan dari empat posyandu untuk diberikan pengetahuan dasar tentang TBC (tuberkulosis).“Empat Posyandu yang hadir diantaranya Posyandu Mawar, Melati, Anggrek dan Dahlia. Pelatihan yang diberikan berupa pengetahuan dasar TBC dan kegiatan ketuk pintu dalam penjaringan pasien suspek TBC,” imbuh Imran.

Materi pelatihan disampaikan oleh Ns. Hj. Jumlianti, S.Kep selaku penanggung jawab TBC Puskesmas Liukang Tuppa Biring dan Kiky Nurfayanti Yunus, SKM yang merupakan promkes PKM serta Imran yang juga mendapat tugas sebagai penanggung jawab program Kawasan Sehat LKC-DD Sulsel.

“Sebelum pelatihan diberikan pre test untuk kader dan post test setelah pelatihan. Para kader yang mengikuti pelatihan mengalami peningkatan pengetahuan 20-30 poin setelah mengikuti pelatihan kader,” kata Imran.

Jumlianti selaku pembicara di kegiatan kali ini menyampaikan materi tentang penyebaran TBC, kaitan TBC dengan HIV Aids dan alur pelaporan serta rujukan suspek TBC.“Penyakit TB adalah penyakit yang tak memandang miskin atau kaya semua bisa tertular jika tak awas menjaga diri,” ungkap Jumlianti.

Kemudian Kiky Nurfayanti Yunus yang juga memberikan materi menjelaskan tentang peran dan fungsi kader dalam penjaringan TBC.“Peran aktif sangat dibutuhkan dalam menyampaikan informasi bagi warga mengenai penyakit TB, apalagi di Pulau Balang Lompo masih menganggap penyakit TB adalah penyakit turunan,” kata Kiky.

Di LKC DD Sulsel, pelatihan dibimbing oleh dr. Kurnia dari Puskesmas Tamamaung dan Rahma Pengelola Program Kemitraan LKC Sulsel.

Selain menyampaikan analisi situasi TB di Indonesia, Kurnia juga menjelaskan bahwa penyakit TB ini bukanlah penyakit keturunan maupun guna-guna. “Stigma ini yang perlu kita ubah kepada masyarakat,” katanya.

TB adalah penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis yang bisa menyerang siapa saja. “Penyakit ini juga bisa disembuhkan asal dapat penanganan secara benar dan baik,” ungkapnya.

Sementara Rahma mengatakan bahwa Indonesia masuk kedalam top 3 negara di dunia dengan penemuan kasus TBC terbanyak di dunia setelah India dan China.

“Kondisi inilah yang sangat memprihatinkan dan menjadi tantangan tersendiri untuk bisa menciptakan kawasan masyarakat sehat,” ujar Rahma.

Dia juga menyambut baik adanya relawan yang turun ke lapangan untuk melakukan screening dan investigasi kontak karena bisa menjaring pasien TB maupun lingkungan sekelilingnya. Hal ini agar ada penanganan lebih dini dan bisa ditindaklanjuti lebih cepat.

“Harapannya dari kegiatan pelatihan ini relawan dapat berkontribusi dalam menemukan terduga sampai pendampingan untuk pemeriksaan di puskesmas,” tutupnya.

Dompet Dhuafa melalui Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) berkomitmen dalam eliminasi TBC melalui beberapa program TB. Selain dalam promotif dan preventif, juga dilakukan bantuan dukungan gizi, dan transportasi rujukan.

Salah satu program yang digagas Dompet Dhuafa adalah Program Kawasan Sehat dengan berbagai indikator predikat RW sehat. Satu diantaranya adalah eliminasi TBC.

YBM PLN Unit 3 Makassar Selatan Gandeng Dompet Dhuafa Sulsel Salurkan Paket Sembako Kaum Duafa

YBM PLN Unit 3 Makassar Selatan Gandeng Dompet Dhuafa Sulsel Salurkan Paket Sembako Kaum Duafa

Yayasan Baitul Maal PT Perusahaan Listrik Negara Unit Pelaksana (YBM PLN UPK) Unit 3 Makassar Selatan bersama Dompet Dhuafa Sulsel menyalurkan 20 paket sembako kepada masyarakat duafa dan yatim di Kabupaten Gowa, Sulsel, Jumat (19/3/2021).

Paket sembako ini diberikan kepada 20 penerima manfaat duafa dan yatim yang ada di Jalan Lambengi, Desa Bontoala, Kecamatan Palangga, Kabupaten Gowa.

Dalam proses penyerahannya, Aksyah Hasan selaku Ketua YBM PLN Makassar Selatan menyampaikan bahwa penyaluran ini merupakan program perdana pada 2021. Adapun sembako yang diberikan ini berasal dari dana zakat pegawai PT PLN Makassar Unit 3.

“Sembako yang diberikan ini murni berasal dari 2,5 persen dana zakat penghasilan para pegawai PT PLN Unit 3 yang kita alokasikan menjadi sembako,” katanya.

“Semoga kegiatan penyaluran selanjutnya bisa memberikan lebih banyak. Kami harapkan saudara jangan lupa untuk mendoakan kegiatan ini terus berlanjut agar kondisi di sini menjadi lebih baik lagi,” tambahnya.

Abdul Rahman selaku perwakilan Dompet Dhuafa Sulsel mengatakan, penyaluran paket sembako ini adalah salah satu kegiatan program perdana #JumatBerkah tahun 2021 Dompet Dhuafa Sulsel bersama YBM PT PLN dalam memperhatikan ketahanan pangan.

“Alhamdulillah kita sinergi bersama YBM PT PLN Unit 3 untuk menyalurkan paket sembako sebagai bentuk kepedulian kondisi pangan masyarakat khususnya warga di Lambengi, Bontoala, Gowa ini. Melalui sembako ini kami berharap semoga bisa bermanfaat bagi warga. Memang jumlahnya mungkin tidak seberapa, namun harapannya bisa sedikit membantu meringankan beban,” ujar Rahman.

Salah satu penerima manfaat, Wati, warga Desa Bontoala mengaku terharu menerima sembako yang diberikan kepadanya. “Saya merasa terharu dan terima kasih telah memberikan sembako kepada kami warga di sini. Semoga Dompet Dhuafa Sulsel dan PLN Makassar pegawainya bisa sehat-sehat dan murah rezeki,” ucapnya.

Dompet Dhuafa Kembali Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa Sulbar

Dompet Dhuafa Kembali Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa Sulbar

Musibah gempa bumi berkekuatan 6,2 SR yang mengguncang Sulawesi Barat pada Januari 2021 masih menyulitkan kehidupan warga korban gempa Sulbar sampai hari ini.

Gempa tidak hanya merusak fasilitas mereka. Namun juga memberikan beban moril. Beberapa warga kehilangan sumber mata pencarian.

Sejak terjadinya Gempa Bumi menimpa Sulawesi Barat, Dompet Dhuafa telah melakukan upaya penyaluran bantuan baik evakuasi maupun donasi kepada para penyintas gempa yang terletak di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, guna mengurangi beban warga.

Dompet Dhuafa kembali menyalurkan bantuan berupa sembako di 3 lokasi. Yaitu Dusun Samalio Utara dan Dusun Samalio Induk, Desa Mekatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, Sulbar.  Serta di sekitar posko Dompet Dhuafa di Majene.

Ada 200 paket sembako yang salurkan kepada para penyintas 3 tempat tersebut. Bantuan kemanusiaan ini berasal dari para donatur individu maupun kelompok serta para charity partner Dompet Dhuafa.

“Pemberian paket sembako itu dilakukan untuk mengurangi beban ekonomi mereka,” kata Syarif, Koordinator Bidang Sosial dan Kemanusiaan Dompet Dhuafa Sulsel, Selasa 16 Maret 2021.

Adapun penyaluran bantuan paket sembako itu di antaranya berupa beras, minyak goreng, kopi, ikan sarden, biskuit, teh dan gula pasir.

Pendistribusian bantuan sembako itu dibantu oleh relawan Dompet Dhuafa dengan mendatangi korban yang terdampak.

“Kami berharap bantuan paket sembako itu dapat memenuhi ketersediaan pangan keluarga,” katanya.

Copyright © 2026 DD Sulsel