Jangan Sampai Lewat, Inilah 5 Manfaat Zakat Yang Wajib Diketahui

Jangan Sampai Lewat, Inilah 5 Manfaat Zakat Yang Wajib Diketahui

Zakat merupakan ibadah wajib bagi umat muslim. Seperti yang kamu ketahui Zakat menempati rukun islam ke-4. Menurut pengertiannya, zakat adalah sejumlah harta yang wajib dikeluarkan oleh umat Muslim dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya sesuai dengan syarat yang telah ditetapkan. Pengertian zakat tertulis dalam QS Al-Baqarah 2:43.

Dengan berzakat, kamu tidak hanya membuat tabungan menuju surga namun juga memberikan beragam manfaat lainnya. Seperti 5 manfaat berikut ini.

1. Membersihkan Harta

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketepatan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At-Taubah ayat 60).

2. Menenangkan Hati dan Diri

3. Jauh Dari Kesusahan

4. Menyuburkan Harta

Allah SWT telah menjanjikan akan meningkatkan kualitas hidup seseorang dengan zakatnya. Seperti yang disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah ra “Kekayaan tidak akan berkurang karena amal.”

5. Tiket Ke Surga

Seperti yang disebutkan (Dalam HR. At-Tirmidzi): surga adalah untuk “mereka yang bertutur halus, menyebarkan salam Islam, memberi makan orang-orang dan bermalam dengan memanjatkan doa secara sukarela ketika orang-orang sedang terlelap.”

. . .

Bagaimana? Kamu sudah menunaikan zakat? Kamu bisa membayar melalui Dompet Dhuafa.
Yuk, Ketahui Macam-Macam Zakat bagi Umat Muslim!

Yuk, Ketahui Macam-Macam Zakat bagi Umat Muslim!

Apakah kamu sering keliru jika zakat hanya dilakukan pada saat bulan ramadan saja? Nah nyatanya nih, menurut Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) zakat saat ramadan bukan satu-satunya zakat dalam ajaran islam. Yup, ada zakat maal yang sama pentingnya untuk ditunaikan.

Zakat maal berarti zakat yang dikenakan atas segala jenis harta, yang secara zat maupun substansi perolehannya tidak bertentangan dengan ketentuan agama. Sebagai contoh, zakat maal terdiri atas beberapa jenis:

1. Zakat Penghasilan

2. Zakat Emas dan Perak

3. Zakat Perdagangan

Cara menghitung zakat perdagangan adalah 2,5% X (aset lancar — utang jangka pendek). Jika misalnya punya aset usaha Rp 200 juta dan utang jangka pendek Rp 50 juta, maka selisihnya sudah lebih dari nisab 85 gram emas yang setara uang Rp 52.870.000. Oleh karena itu dihitunglah zakatnya 2,5% X (Rp 200 juta — Rp 50 juta) = Rp 3.750.000.

4. Zakat Saham

Cara menghitung zakat saham adalah 2,5% x jumlah harta yang tersimpan selama 1 tahun. Contoh juga dalam setahun punya aset Rp 100 juta dan melebihi nisab 85 gram emas atau Rp 52.870.000 maka dihitunglah zakatnya 2,5% X Rp 100 juta = Rp 2,5 juta. Jika dikonversi dalam saham Rp 2,5 juta: (nilai saham dalam satuan lot) = jumlah lot yang mesti dipindahkan sahamnya sebagai zakat.

5. Zakat Reksadana

Nah itulah beberapa contoh jenis zakat. Di balik harta yang kita miliki, ternyata 2,5 % adalah milik orang lain dalam hal ini adalah para kaum dhuafa. Jadi tunaikanlah zakat agar hidup penuh berkah!

Jika kamu masih bingung berapa besaran dana yang harus dikeluarkan, cek secara lengkap menghitung zakat maal kamu melalui kalkulator zakat Dompet Dhuafa. Dan jika kamu masih bingung tentang panduan berzakat, bisa download buku panduan zakat dari Dompet Dhuafa berikut ini.

PINRANG – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 5 dan 8 Juni. Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan serta CSR Bank SULSELBAR turut serta menjaga bumi dan lingkungan dengan mengadakan pelestarian lingkungan dengan kegiatan Sedekah Bumi.

Sedekah bumi adalah aksi peduli terhadap lingkungan hidup dan lautan melalui ragam keguatan kebaikan. Adanya kegiatan ini mengajak masyarakat untuk turut andil dalam melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesadaran terhadap pemulihan ekosistem pesisir.
Kegiatan Sedekah Bumi ini dilakukan selama 2 hari yaitu Sabtu (5/6/2021) hingga Minggu (6/6/2021) bertempat di Kampung Kreasi Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan kegiatan ini berkolaborasi dengan Lima Putra Pesisir, DD Volunteer Sulsel, The Floating School, Bumi Lestari dan Mangrove Brotherhood.

Dalam aksi Sedekah Bumi ini, terdapat sejumlah agenda kegiatan yang dilakukan bersama diantaranya yaitu sedekah bakau, pelepasan tukik, nonton bareng, diskusi lingkungan, bersih pantai dan kegiatan edukasi dongeng juga mewarnai untuk anak-anak.

Kegiatan dimulai pada Sabtu (5/6/2021) pukul 13.00 diawali dengan registrasi peserta dan setelahya dilanjutkan dengan bincang mengenai lingkungan hidup oleh pemantik dari Dompet Dhuafa Rahmat HM, Renaldi dari Lima Putra Pesisir dan Awal sebagai perwakilan Mangrove Brotherhood.

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan menanam pohon bakau di pesisir pantai Menralo, Kec. Suppa, Kab. Pinrang. Kurang lebih 1.000 pohon mangrove berhasil ditanam oleh peserta yang datang dari berbagai komunitas atau lembaga seperti KPPI, Lima Putra Pesisir, Bumi Lestari, The Floating School dan Mangrove brotherhood.

Pada malam harinya peserta diajak menonton bersama film dokumenter berjudul “The Citarum”. Usai menonton kegiatan kemudian dilajutkan dengan diskusi lingkungan seputar pencemaran daerah aliran sungai dan pantai.
Pada Minggu (6/6/2021), para peserta, relawan serta rekan komunitas diajak bersama-sama merilis 200 tukik yang telah diadopsi oleh para donatur DD Sulsel di Pantai Lowita, Desa Wiringtasi, Kec. Suppa, Kab. Pinrang.
Pimpinan Cabang DD Sulsel, Rahmat Hidayat HM menyampaikan “Sedekah bakau dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup dan Hari Laut Sedunia ini diharapkan dapat mencegah abrasi yang terjadi dipantai dan adapun untuk tukik-tukik yang telah diadopsi oleh sahabat baik melalui Dompet Dhuafa semoga dapat dapat tumbuh dengan baik dan melindungi lautan kita” ungkap Rahmat.

Pemilihan Kampung Kreasi Desa Wiringtasi sebagai lokasi Sedekah Bumi yaitu karena wilayah tersebut merupakan wilayah dengan banyak pesisir pantai namun kurang kosentrasi. Wilayah pesisir pantainya banyak dijadikan sebagai lahan konversi sebagai tambak ikan. Akan tetapi dampak buruk dari lahan konversi ini menciptakan ekosistem yang buruk yaitu turunnya kualitas sumber daya mangrove serta sulitnya nelayan mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Sebab itu, penanaman bakau ini bertujuan membuat ekosistem pesisir kembali pulih. Begitupun pantai Lowita juga di kenal sebagai wilayah konservasi penyu dan telur-telurnya yang harus dilestarikan.

Rahmat menambahkan dengan adanya program ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ekosistem pesisir yang baik dan berkelanjutan serta dapat menyelamatkan tukik dari kepunahan.
Masalah lain yang ditemui dalam aksi Sedekah Bumi di pantai Lowita adalah sampah yang menumpuk baik sampah lokal maupun sampah kiriman dari berbagai negara seperti Korea, Tiongkok, Filipina, Singapura, hingga Republik Ceko yang membuat pantai kotor dan merusak pertumbuhan karang serta ikan-ikan kecil yang hidup disekitar pesisir pantai. Sehingga kegiatan sedekah bumi juga melakukan audit sampah. Para peserta dan relawan diberikan edukasi lingkungan terkait penguraian sampah dan dampaknya bagi lingkungan.
Tak lupa pula kegiatan ini juga menjangkau anak-anak dengan memberikan edukasi berupa sedekah dongeng dan juga aktivitas mewarnai. Pentingnya edukasi dini agar semakin banyak orang yang peduli terhadap pelestarian lautan dan alam sekitar.
Bumi adalah milik semua makhluk hidup jadi tidak hanya manusia saja yang berhak hidup di Bumi namun ada juga flora dan fauna disekitar kita. Peran mereka sangat besar bagi kelangsungan ekosistem di Bumi namun sayangnya hal itu banyak dilupai oleh manusia yang sibuk merusak lingkungan tanpa tahu dampak kerusakan lingkungan 50 tahun kedepan. Sebab menjaga lingkungan adalah tugas bersama.
Telusur Kisah: Mengenal Kopi Pattongko Dan Upayanya Untuk Mensejahterakan Petani Pelosok

Telusur Kisah: Mengenal Kopi Pattongko Dan Upayanya Untuk Mensejahterakan Petani Pelosok

Sinjai Tengah – Kopi Pattongko hadir diawali dengan pemikiran untuk menghasilkan produk berkualitas dari alam, sekaligus juga bisa memberdayakan petani setempat. Tidak hanya membeli dan mengolah hasil pertanian, Kopi Pattongko membawa nilai untuk menyediakan kehidupan lebih baik kepada petani kebun kopi. Kopi Pattongko memiliki tujuan mengekplorasi daerah dengan potensi pertanian yang baik dengan memberdayakan masyarakat lewat inovasi pertanian berkelanjutan.

Kehadiran Kopi Pattongko yaitu tentang eksplorasi dan menemukan potensi melalui konsistensi menciptakan program pemberdayaan masyarakat mengenai rantai produksi, sistem kerja, hingga pelatihan pertanian yang bisa membantu mereka berkembang dan berkontribusi bersama dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Saat ini pemberdayaan Kopi Pattongko telah menjangkau 2 kampung yaitu kampung Pattongko dan Kampung Lappara yang berada di Sinjai Tengah. Kehadiran pemberdayaan Kopi Pattongko selama 4 tahun dirasakan memberikan dampak positif bagi kehidupan petani terutama pada pola bertani.

Hal ini disampaikan oleh Ramly dan Mail selaku penerima manfaat program pemberdayaan Dompet Dhuafa Sulsel saat tim DD Sulsel berkunjung ke perkebunan Kopi Pattongko, Kabupaten Sinjai Tengah pada (13/06/2021).

Baik Ramly maupun Mail bercerita awal kehadiran mereka sulit diterima oleh petani setempat namun perlahan tapi pasti melalui pendakatan sosial dan personal akhirnya petani mulai terbuka dan mulai berbenah merawat kopi secara baik. Jika sebelumnya petani keliru cara bercocok tanam, kini mulai dibangun kesadarannya tentang budidaya dan pasca panen kopi yang baik dan benar. Petani diberikan edukasi cara penanaman, pemangkasan hingga pemetikan agar menghasilkan kopi arabika yang berkualitas.

Salah satu yang menjadi fokus pada pemberdayaan Kopi Pattongko adalah proses pemetikan. Ketika musim panen, pemetikan kopi tidak dilakukan secara serentak namun dilakukan secara selektif. Pemetikan dilakukan hanya pada buah yang telah berwarna merah penuh atau telah matang sempurna. Sisanya dibiarkan untuk pemetikan selanjutnya. Selain itu dilakukan pemanenan dengan cara memungut buah kopi yang gugur berjatuhan di tanah karena sudah kelewat matang. Hal ini untuk menjaga kualitas pohon kopi dan biji kopi untuk panen selanjutnya.

Di perkebunan Kopi Pattongko, Ramly dan Mail tidak hanya memberdayakan pemilik kebun kopi namun juga juru petik. Juru petik ini dipekerjakan untuk memetik buah pilihan tersebut selama masa panen. Program pemberdayaan ini selain menyentuh petani pemilik kebun kopi juga membuka lapangan pekerjaan kepada masyarakat sebagai juru petik. Ramly dan Mail ingin membuat petani lebih sejahtera terutama petani pelosok di perkebunan Pattongko melalui pemberdayaan kopi yang mereka kerjakan. Sejauh ini ada 10 kebun kopi yang tengah dirawat oleh Kopi Pattongko dan sekitar 10 penerima manfaat sebagai juru petik. Selanjutnya mereka ingin menjangkau lebih banyak lagi petani kopi baik itu pemilik kebun maupun mempekerjakan lebih banyak masyarakat.

Di samping itu, Ramly dan Mail juga mengajak para petani menjaga lingkungan dengan penggunaan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik dinilai lebih ramah lingkungan juga sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik bertujuan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan kedepannya. Mimpi mereka membuat Kopi Pattongko dikenal sebagai perkebunan kopi arabika terbaik di Indonesia.

Bertemu Masyita: Jadikan Alquran Sebagai Penolong

Bertemu Masyita: Jadikan Alquran Sebagai Penolong

Semangat dalam belajar dan menghafal Al-Quran terus digemakan Masyita Putri Nasyira, Hafidz Cilik Indonesia. Meskipun ditengah keterbatasan fisik yang ia miliki, hal ini tidak menyurutkan gadis 12 tahun ini untuk menghafal Alquran. Gadis kecil ini telah menghafal 30 jus  Al Quran diusianya yang baru 12 tahun.

Masyita adalah anak yang terlahir dengan total blind atau tidak dapat melihat objek apapun. Hal ini disampaikan oleh ibuda Masyita, Irawati.

“Anak saya terlahir prematur dan tidak melihat, namun Allah punya rencana lain. Masyita diberikan hidayah menjadi penghafal alquran. Dulu sewaktu masyita masih berumur balita, dia sedikit autis, sedikit saja ngamuk, pokoknya apa yang di depannya itu dihambur kadang juga suka mukul apalagi kalau sama anak kecil. Lalu ketika ayahnya perdengarkan Alquran, dia langsung diam dan sejak itu dia mulai suka bahkan betah duduk depan tv untuk mendengarkan lantunan ayat Alquran, ” kata Irawati

“Surah pertama yang dihafal Masyita ketika itu adalah Ar-Rahman. Dia sangat suka dengan surat itu dan sering mendengarkannya berkali-kali dan alhamdulillah lama kelamaan bisa menghafal Alquran, padahal kita tidak pernah mengajarkannya. Ini semua dia dapatkan secara otodidak,” terangnya.

Tentu pencapaian yang didapatkan Masyita dalam menghafal ini berkat disiplin, konsisten dan juga dorongan dari orang tuanya. Ibunda Masyita, Irawati menyampaikan bahwa mereka terus mendukung masyita dalam belajar Alquran. Setiap hari Masyita konsisten dan disiplin membaca dan mengulang-ngulang bacaan alquran.

Pada sesi tanya jawab program Ngaji Bareng Masyita oleh Dompet Dhuafa Sulsel, Irawati membagikan tipsnya agar anak bisa menghafal Alquran. “Tipsnya agar anak dapat menghafal alquran yaitu dengan jangan paksakan anak menghafal, serahkan semua kepada anak.  Kita cukup membimbing menyesuaikan kemampuan anak. Terus lakukan murajaa membaca secara berulang-ulang. Insya Allah akan menjadi bekal Akhirat,” imbuhnya.

Masyita yang kini duduk di kelas 1 sekolah menengah bercerita bahwa dia telah mengenal Alquran sejak usia 3 tahun. Saat itu ia melalui mendengarkannya melelalui saluran tv. Mulai sejak itu ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam depan tv untuk mendengarkan lantunan ayat suci alquran dan merekam melalui ingatannya. Pada usia 7 tahun Masyita telah menghafal 5 Juz dan ia kemudian mengikuti kompetisi  Hafidz Cilik Indonesia pada tahun 2016. Dari sini Masyita pun semakin terpacu untuk menjadi penghafal Alquran. Dan alhamdulillah berkat kegigihannya, pada tahun 2019 lalu Masyita telah menghafal 30 juz.

Dalam wawancaranya bersama Dompet Dhuafa Sulsel, Masyita menyampaikan pesannya untuk selalu dekat dengan Alquran. “Jadikan Al-quran sebagai penolong. Jangan lupa murajaah setiap hari, tanamkan dalam hati untuk selalu cinta al quran,” ungkapnya.

Telusur Kisah Para Dari Pedalaman

Telusur Kisah Para Dari Pedalaman

Tahukah kamu kalau 23% dari total penduduk dunia ini adalah pemeluk agama Islam atau lebih dari 1,9 Miliar orang mempercayai Islam sebagai agama yang dipercayai. Sedangkan negara muslim terbesar adalah Indonesia, di mana diperkirakan 229 juta Muslim memeluk Islam atau sekitar 13% dari populasi Muslim dunia.

Angka ini pun tersebar mulai dari perkotaan hingga ke pedalaman nusantara. Namun yang menjadi PR besar adalah jumlah tersebut ternyata tidak berbanding dengan informasi atau pemahaman agama yang mereka dapatkan. Infrastruktur menjadi kendala utama dalam mensyiarkan agama.

Melihat kondisi ini, Dompet Dhuafa mengambil peran untuk menebar ilmu agama hingga ke pelosok negeri. Setiap tahunnya, pada bulan ramadan Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan mengirimkan Dai untuk berdakwah di pedalaman Sulawesi. Program Da’i Pedalaman ini merupakan salah satu program dakwah Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem masyarakat 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) yang islami dan mampu berdaya berdasarkan local wisdom wilayah.

Tahun ini, DD Sulsel menempatkan 7 orang dai di 7 kabupaten Sulawesi Selatan dan Barat (SULSELBAR). Wilayah tersebut adalah Kabupaten Barru, Toraja Utara, Enrekang, Soppeng, Polewali Mandar, Majene dan Mamuju. Selain penempatan untuk menebar ilmu agama, DD Sulsel juga menugaskan para Dai Pedalaman sebagai Duta Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf) Dompet Dhuafa dan selain itu juga, DD Sulsel memberikan misi untuk melihat potensi alam desa yang ada.

Penempatan di 7 kabupaten yang berbeda, tentu tiap dai punya ceritanya masing-masing  dalam perjalanan berdakwahnya.  Misalnya kisah dari Ust. Andi Baso Ishak yang berdakwah di desa Marioriaja, Kec. Marioriwawo, Kab. Soppeng, mengatakan “Ibadah masyarakat di desa tersebut belum maksimal, hal ini dikarenakan para penduduk setempat berprofesi sebagai petani yang mana dari subuh sampai ashar mereka sudah pergi bertani. Mereka bergabung pada waktu maghrib hingga tarawih. Masih banyak juga yang tidak melaksanakan puasa secara maksimal.”

Kisah hampir serupa juga dikatakan oleh Ust Safar yang berdakwah di Buntu Orongan, Kec. Rantebua, Kab. Toraja Utara. “tidak adanya tenaga keagamaan yang bisa untuk membimbing masyarakat baik dari anak-anak sampai pada tahap orang tua serta kurangnya minat masyarakat untuk mau memahami islam, terkadang orang-orang tidak melaksanakan shalat dan puasa di bulan ramadhan dan mereka hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Namun sudah sampai dipertengahan bulan Ramadhan jama’ah masih tetap istiqomah untuk hadir buka bersama hingga waktu shalat tarawih,” tuturnya.

Menurut cerita dari Ust Pandi yang bertugas di Desa Buku, Kec. Mapilli, Kab. Polman. “Warga muslim di desa ini sangat kurang pengetahuan ibadah juga banyak yang belum mengetahui hukum bacaan dalam Alquran. Sehingga perlu pendampingan khusus. Namun ada baiknya warga begitu terbuka untuk dibimbing. Namun satu hal yang menjadi PR adalah pendampingan pada remaja laki-laki di desa ini sebab ketertarikan mempelajari ilmu agama masih rendah, perlu ada pendekatan khusus,“ ungkap Pandi.

Kendala lain yang ditemui para dai adalah fasilitas dan infrastruktur. Ust Muammar bercerita kalau fasilitas keagamaan wilayah penempatan di Desa Bonto Manurung,  Kec.Tompobulu, Kab. Maros kurang memadai sebut saja tidak adanya Iqra’ dipakai untuk mengajar  santri TPA, Perangkat alat sound system di masjid yang tidak memadai, tidak adanya mimbar, buku keislaman serta Al-Quran yang masih terbilang sedikit dan lemari serta rak untuk menyimpan Al-Qur’an dan Talkum.

Ust Safar juga mengungkapkan “kondisi jalanan yang memprihatinkan mempengaruhi keagamaan yang ada di masyarakat, jarak Rumah masyarakat  terbilang jauh untuk menempuh ke masjid apalagi ketika musim hujan, jalan nya sukar untuk dilewati dan terkadang pula tidak bisa untuk melewati sungai ketika hujan deras datang. Juga  ekonomi masyarakat yang menjadi persoalan. Masyarakat hanya terfokus pada pekerjaan (bersawah dan menggembala kerbau) saja dan menghabiskan waktunya dari pagi sampai sore untuk bekerja hingga kebanyakan dari mereka yang tidak menjalankan kewajiban ibadahnya,” imbuhnya.

Minimnya akses infrastruktur dan juga fasilitas baik itu fasilitas masjid maupun teknologi informasi membuat penyebaran dakwah islam menjadi tidak merata. Pengaruh modernisasi dan kondisi ekonomi juga menjadi salah satu faktor kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap ilmu agama.

Meskipun demikian, banyak warga juga yang antusias ingin belajar untuk memperkuat pondasi keislaman mereka. Dengan adanya Dai Pedalaman kesadaran masyarakat tentang ibadah perlahan-lahan mulai terlihat. Banyak warga yang mendapatkan ilmu agama seperti cara berwudhu, sholat, mengaji, ceramah, azan, dan ilmu lainnya yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Tapi di sudut lain, kondisi yang memprihatinkan juga utarakan Ust Muammar. “Warga dusun Makmur mengalami kesulitan air untuk mengaliri perkebunannya sehingga banyak hasil panen yang gagal, ditambah lagi tidak ada akses jembatan penyambung untuk menghantarkan hasil panen mereka ke kampung sebelah, sehingga mereka hanya mengandalkan sungai untuk dilewati namun apabila musim hujan, jalanan tersebut tidak dapat dilewati. Inilah problem utama yang dirasakan oleh warga disini,” terang Muammar.

Melihat situasi ini, tentunya ini akan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa dikerjakan sendiri dan dalam waktu singkat. Butuh kerjasama, tekad, dan kesabaran dalam menyebarkan perintah Allah SWT.

Selain tantangan yang dihadapi selama proses dakwah, para dai juga melihat banyak peluang desa yang apabila dimaksimalkan bisa menjadi potensi desa yang besar. Mengingat hasil alam desa adalah penunjang bahan pokok di perkotaan. Jadi dai tidak hanya sebagai penyebar namun juga sebagai solusi problematika masyarakat. Sebagaimana tujuan dari program ini mampu berdaya berdasarkan local wisdom wilayah.

Copyright © 2026 DD Sulsel