Tim Respon Cepat Dompet Dhuafa Bersama SAR Gabungan Tangani Korban Tenggelam di Kabupaten Maros

Tim Respon Cepat Dompet Dhuafa Bersama SAR Gabungan Tangani Korban Tenggelam di Kabupaten Maros

Maros, Sulawesi Selatan — Tim Respon Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan bersama tim SAR gabungan merespons cepat insiden tiga mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang terseret arus di Sungai Biseang Laborro, Pattunuang, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, pada Kamis (23/1/2025).

Diketahui, ketiga mahasiswa tersebut adalah Jean Eclezia (19 tahun), Syadza (19 tahun), dan Resky Rahim (21 tahun), mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Unhas.

Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan menurunkan 5 personel beserta 1 armada ambulans untuk mempercepat proses evakuasi yang dilakukan bersama tim SAR gabungan. Proses pencarian dimulai dari titik awal lokasi kejadian hingga menyisir area di sepanjang aliran Sungai Biseang Laborro.

Kepala BPBD Maros, Towadeng, menyampaikan bahwa korban pertama, Jean Eclezia, ditemukan pada radius 1 km dari lokasi awal dilaporkan hilang. “Korban ditemukan tersangkut di akar pepohonan di belakang area Pertamina,” ungkapnya.

enazah Jean kemudian dievakuasi ke RSUD dr. La Palaloi, Maros. Pihak keluarga dan perwakilan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas telah berada di rumah sakit untuk proses penjemputan jenazah.

Korban kedua, Resky Rahim (21 tahun), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Kamis (23/1/2025), dengan lokasi penemuan sejauh 300 meter dari titik awal hilang. Sekretaris BPBD Maros, Nasrul, menyatakan jenazah langsung dibawa ke RSUD dr. La Palaloi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Proses pencarian korban terakhir, Syadza, berlanjut hingga Jumat (24/1/2025). Nasrul mengungkapkan bahwa Syadza ditemukan pukul 09.30 WITA di aliran Sungai Ta’daeng, sekitar 1 km dari lokasi awal hilang. Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia dan telah dievakuasi ke RSUD dr La Palaloi.

Kapolres Maros, AKBP Douglas Mahendrajaya, menjelaskan kronologi insiden ini.
Pada Kamis (23/1/2025), enam mahasiswa tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 WITA untuk survei rencana camping yang dijadwalkan pada 23 Februari 2025. Setelah selesai mengecek area, mereka memutuskan kembali, tetapi jalur yang sebelumnya mereka lalui telah dialiri air akibat hujan di hulu.

Karena kondisi mulai gelap, mereka memutuskan menyeberangi aliran air dengan saling berpegangan tangan. Saat mendekati jembatan penyeberangan, salah satu mahasiswa mencoba melompat untuk menggapai tiang pegangan tetapi gagal, sehingga jatuh dan terbawa arus. Tiga mahasiswa lainnya ikut terseret karena saling berpegangan.

Arus sungai yang deras dengan ketinggian mencapai dua meter menyulitkan korban untuk menyelamatkan diri. Dari empat mahasiswa yang jatuh, satu berhasil menyelamatkan diri, sementara tiga lainnya hilang.

Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Koordinator tim, Syarif Syamsuddin, mengapresiasi kerja sama tim SAR gabungan, BPBD Maros, serta masyarakat setempat yang turut membantu dalam proses pencarian dan evakuasi.

“Kami berharap tragedi ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati saat melakukan kegiatan di alam terbuka, terutama di lokasi yang rawan bencana,” ujar Syarif Syamsuddin.

Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan juga berkomitmen untuk terus memberikan bantuan dan dukungan dalam setiap kondisi darurat yang terjadi di masyarakat.

PINRANG – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia yang jatuh pada setiap tanggal 5 dan 8 Juni. Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan serta CSR Bank SULSELBAR turut serta menjaga bumi dan lingkungan dengan mengadakan pelestarian lingkungan dengan kegiatan Sedekah Bumi.

Sedekah bumi adalah aksi peduli terhadap lingkungan hidup dan lautan melalui ragam keguatan kebaikan. Adanya kegiatan ini mengajak masyarakat untuk turut andil dalam melestarikan lingkungan dan meningkatkan kesadaran terhadap pemulihan ekosistem pesisir.
Kegiatan Sedekah Bumi ini dilakukan selama 2 hari yaitu Sabtu (5/6/2021) hingga Minggu (6/6/2021) bertempat di Kampung Kreasi Desa Wiringtasi, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan kegiatan ini berkolaborasi dengan Lima Putra Pesisir, DD Volunteer Sulsel, The Floating School, Bumi Lestari dan Mangrove Brotherhood.

Dalam aksi Sedekah Bumi ini, terdapat sejumlah agenda kegiatan yang dilakukan bersama diantaranya yaitu sedekah bakau, pelepasan tukik, nonton bareng, diskusi lingkungan, bersih pantai dan kegiatan edukasi dongeng juga mewarnai untuk anak-anak.

Kegiatan dimulai pada Sabtu (5/6/2021) pukul 13.00 diawali dengan registrasi peserta dan setelahya dilanjutkan dengan bincang mengenai lingkungan hidup oleh pemantik dari Dompet Dhuafa Rahmat HM, Renaldi dari Lima Putra Pesisir dan Awal sebagai perwakilan Mangrove Brotherhood.

Selanjutnya kegiatan dilanjutkan dengan menanam pohon bakau di pesisir pantai Menralo, Kec. Suppa, Kab. Pinrang. Kurang lebih 1.000 pohon mangrove berhasil ditanam oleh peserta yang datang dari berbagai komunitas atau lembaga seperti KPPI, Lima Putra Pesisir, Bumi Lestari, The Floating School dan Mangrove brotherhood.

Pada malam harinya peserta diajak menonton bersama film dokumenter berjudul “The Citarum”. Usai menonton kegiatan kemudian dilajutkan dengan diskusi lingkungan seputar pencemaran daerah aliran sungai dan pantai.
Pada Minggu (6/6/2021), para peserta, relawan serta rekan komunitas diajak bersama-sama merilis 200 tukik yang telah diadopsi oleh para donatur DD Sulsel di Pantai Lowita, Desa Wiringtasi, Kec. Suppa, Kab. Pinrang.
Pimpinan Cabang DD Sulsel, Rahmat Hidayat HM menyampaikan “Sedekah bakau dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup dan Hari Laut Sedunia ini diharapkan dapat mencegah abrasi yang terjadi dipantai dan adapun untuk tukik-tukik yang telah diadopsi oleh sahabat baik melalui Dompet Dhuafa semoga dapat dapat tumbuh dengan baik dan melindungi lautan kita” ungkap Rahmat.

Pemilihan Kampung Kreasi Desa Wiringtasi sebagai lokasi Sedekah Bumi yaitu karena wilayah tersebut merupakan wilayah dengan banyak pesisir pantai namun kurang kosentrasi. Wilayah pesisir pantainya banyak dijadikan sebagai lahan konversi sebagai tambak ikan. Akan tetapi dampak buruk dari lahan konversi ini menciptakan ekosistem yang buruk yaitu turunnya kualitas sumber daya mangrove serta sulitnya nelayan mendapatkan hasil panen yang memuaskan. Sebab itu, penanaman bakau ini bertujuan membuat ekosistem pesisir kembali pulih. Begitupun pantai Lowita juga di kenal sebagai wilayah konservasi penyu dan telur-telurnya yang harus dilestarikan.

Rahmat menambahkan dengan adanya program ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap ekosistem pesisir yang baik dan berkelanjutan serta dapat menyelamatkan tukik dari kepunahan.
Masalah lain yang ditemui dalam aksi Sedekah Bumi di pantai Lowita adalah sampah yang menumpuk baik sampah lokal maupun sampah kiriman dari berbagai negara seperti Korea, Tiongkok, Filipina, Singapura, hingga Republik Ceko yang membuat pantai kotor dan merusak pertumbuhan karang serta ikan-ikan kecil yang hidup disekitar pesisir pantai. Sehingga kegiatan sedekah bumi juga melakukan audit sampah. Para peserta dan relawan diberikan edukasi lingkungan terkait penguraian sampah dan dampaknya bagi lingkungan.
Tak lupa pula kegiatan ini juga menjangkau anak-anak dengan memberikan edukasi berupa sedekah dongeng dan juga aktivitas mewarnai. Pentingnya edukasi dini agar semakin banyak orang yang peduli terhadap pelestarian lautan dan alam sekitar.
Bumi adalah milik semua makhluk hidup jadi tidak hanya manusia saja yang berhak hidup di Bumi namun ada juga flora dan fauna disekitar kita. Peran mereka sangat besar bagi kelangsungan ekosistem di Bumi namun sayangnya hal itu banyak dilupai oleh manusia yang sibuk merusak lingkungan tanpa tahu dampak kerusakan lingkungan 50 tahun kedepan. Sebab menjaga lingkungan adalah tugas bersama.
Dompet Dhuafa Salurkan 500 Paket Gaza Foodbank Bantuan Bagi Rakyat Gaza

Dompet Dhuafa Salurkan 500 Paket Gaza Foodbank Bantuan Bagi Rakyat Gaza

MAKASSAR– Laporan langsung dari Gaza Utara, bahwa terdapat ratusan bangunan baik rumah, sarana publik luluh lantah akibat serangan misil Israel, dan terdapat 50 warga mengungsi di pengungsian dengan keterbatasan sarana seperti air bersih, serta kebutuhan lainnya. Pada Senin (24/5/2021), melalui sambungan telepon dan disiarkan langsung di kanal Youtube DDTV, Dompet Dhuafa bersama Takween Association berhasil menyalurkan 500 paket makanan (Gaza Foodbank) berupa sembako bagi penyintas konflik Israel-Palestina yang sampai hari ini belum banyak bantuan mereka terima. Terlebih lagi, para penyintas masih tinggal di pengungsian dengan sarana yang terbatas. Selain 500 paket Gaza Foodbank ini, Dompet Dhuafa nantinya akan terus menggulirkan bantuan-bantuan pada masa pemulihan pasca konflik Israel-Palestina seperti pembangunan kamar operasi, Covid-19 Centre, recovery disabilitas, pelatihan skill untuk perempuan di Gaza, renovasi sekolah-sekolah maupun masjid-masjid yang hancur dan fasilitas untuk sewa rumah bagi dhuafa di Palestina.
Sadi Dabboor, selaku Chairman Takween Association for Development menjelaskan, “Saat ini (Senin, 24/5/2021) saya berada di Gaza Utara, Palestina. Bantuan ini disalurkan kepada masyarakat termasuk anak-anak yang tinggal di sekitar Gaza Utara, dan yang saat ini harus pindah ke pengungsian. Karena, rumah mereka hancur akibat serangan Israel yang tak kenal henti hingga saat ini”.

Ramadan, salah satu penerima manfaat, “Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat Indonesia, khususnya donatur Dompet Dhuafa yang telah membantu kami. Karena hari ini bisa tersalurkan kepada kami yang telah menjadi korban atas konflik yang terjadi. Kami tahu rakyat Indonesia sayang kepada kami, dan kami sangat mengapresiasi perhatian dan bantuan dari kalian”.
Di sisi lain Mohammed Abu Mohadi (56), selaku penerima manfaat, menunjuk reruntuhan bangunan di belakangnya dan menjelaskan peristiwa yang menimpanya, “Dulu di situ adalah tempat tinggal kami. Namun sekarang sudah runtuh. Sekarang kami mengungsi di tempat yang seadanya. Makanan pun juga seadanya. Alhamdulillah, kami sampaikan terima kasih kepada donatur Dompet Dhuafa dan pihak-pihak lainnya telah menyalurkan bantuan ke sini.”
Sadi melanjutkan, Takween Association akan selalu bersedia menjadi mitra Dompet Dhuafa sebagai kepanjangan tangan para donatur. Sehingga dapat menyentuh saudara-saudara yang menjadi korban dampak kekejaman Israel.
Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Bambang Suherman menjelaskan, sejak 2009, Dompet Dhuafa telah menyalurkan berbagai bantuan dalam aksi kemanusiaan untuk masyarakat Palestina. Di antaranya, revitalisasi pabrik roti jabaliyah yang memproduksi sekitar sepuluh ribu roti per harinya, instalasi sumber air bersih pada 2010, mendirikan Gaza Foodbank sejak 2013, serta School for Gaza untuk anak-anak terdampak konflik Israel-Palestina pada 2014. Di 2015 juga ada program Tebar Hewan Kurban (THK) menyentuh saudara-saudara di Palestina. Pada waktu itu ada sebagian hewan kurban dari total 22 ribu hewan kurban, kami salurkan ke Palestina.
“Program lainnya ada DD Kitchen dan revitalisasi sarana umum seperti Sekolah-sekolah dan Masjid yang rusak akibat serangan Israel,” pungkas Bambang.
Melanjutkan, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel, Rahmat Hidayat HM menambahkan “Program respon yang dilakukan Dompet Dhuafa ini juga meliputi penyediaan ambulance gratis untuk Gaza, pelayanan kesehatan, Instalasi Gawat Darurat, Homecare rawat muka, pendistribusian, penempatan relawan medis di pos-pos kesehatan serta pendirian kitchen untuk menyediakan makanan mengingat saat ini toko-toko dan pasar tutup akibat konflik tersebut,” ungkapnya.
Telusur Kisah Para Dari Pedalaman

Telusur Kisah Para Dari Pedalaman

Tahukah kamu kalau 23% dari total penduduk dunia ini adalah pemeluk agama Islam atau lebih dari 1,9 Miliar orang mempercayai Islam sebagai agama yang dipercayai. Sedangkan negara muslim terbesar adalah Indonesia, di mana diperkirakan 229 juta Muslim memeluk Islam atau sekitar 13% dari populasi Muslim dunia.

Angka ini pun tersebar mulai dari perkotaan hingga ke pedalaman nusantara. Namun yang menjadi PR besar adalah jumlah tersebut ternyata tidak berbanding dengan informasi atau pemahaman agama yang mereka dapatkan. Infrastruktur menjadi kendala utama dalam mensyiarkan agama.

Melihat kondisi ini, Dompet Dhuafa mengambil peran untuk menebar ilmu agama hingga ke pelosok negeri. Setiap tahunnya, pada bulan ramadan Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan mengirimkan Dai untuk berdakwah di pedalaman Sulawesi. Program Da’i Pedalaman ini merupakan salah satu program dakwah Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan yang bertujuan untuk menciptakan ekosistem masyarakat 3T (Terdepan, Terpencil dan Tertinggal) yang islami dan mampu berdaya berdasarkan local wisdom wilayah.

Tahun ini, DD Sulsel menempatkan 7 orang dai di 7 kabupaten Sulawesi Selatan dan Barat (SULSELBAR). Wilayah tersebut adalah Kabupaten Barru, Toraja Utara, Enrekang, Soppeng, Polewali Mandar, Majene dan Mamuju. Selain penempatan untuk menebar ilmu agama, DD Sulsel juga menugaskan para Dai Pedalaman sebagai Duta Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf) Dompet Dhuafa dan selain itu juga, DD Sulsel memberikan misi untuk melihat potensi alam desa yang ada.

Penempatan di 7 kabupaten yang berbeda, tentu tiap dai punya ceritanya masing-masing  dalam perjalanan berdakwahnya.  Misalnya kisah dari Ust. Andi Baso Ishak yang berdakwah di desa Marioriaja, Kec. Marioriwawo, Kab. Soppeng, mengatakan “Ibadah masyarakat di desa tersebut belum maksimal, hal ini dikarenakan para penduduk setempat berprofesi sebagai petani yang mana dari subuh sampai ashar mereka sudah pergi bertani. Mereka bergabung pada waktu maghrib hingga tarawih. Masih banyak juga yang tidak melaksanakan puasa secara maksimal.”

Kisah hampir serupa juga dikatakan oleh Ust Safar yang berdakwah di Buntu Orongan, Kec. Rantebua, Kab. Toraja Utara. “tidak adanya tenaga keagamaan yang bisa untuk membimbing masyarakat baik dari anak-anak sampai pada tahap orang tua serta kurangnya minat masyarakat untuk mau memahami islam, terkadang orang-orang tidak melaksanakan shalat dan puasa di bulan ramadhan dan mereka hanya menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa saja. Namun sudah sampai dipertengahan bulan Ramadhan jama’ah masih tetap istiqomah untuk hadir buka bersama hingga waktu shalat tarawih,” tuturnya.

Menurut cerita dari Ust Pandi yang bertugas di Desa Buku, Kec. Mapilli, Kab. Polman. “Warga muslim di desa ini sangat kurang pengetahuan ibadah juga banyak yang belum mengetahui hukum bacaan dalam Alquran. Sehingga perlu pendampingan khusus. Namun ada baiknya warga begitu terbuka untuk dibimbing. Namun satu hal yang menjadi PR adalah pendampingan pada remaja laki-laki di desa ini sebab ketertarikan mempelajari ilmu agama masih rendah, perlu ada pendekatan khusus,“ ungkap Pandi.

Kendala lain yang ditemui para dai adalah fasilitas dan infrastruktur. Ust Muammar bercerita kalau fasilitas keagamaan wilayah penempatan di Desa Bonto Manurung,  Kec.Tompobulu, Kab. Maros kurang memadai sebut saja tidak adanya Iqra’ dipakai untuk mengajar  santri TPA, Perangkat alat sound system di masjid yang tidak memadai, tidak adanya mimbar, buku keislaman serta Al-Quran yang masih terbilang sedikit dan lemari serta rak untuk menyimpan Al-Qur’an dan Talkum.

Ust Safar juga mengungkapkan “kondisi jalanan yang memprihatinkan mempengaruhi keagamaan yang ada di masyarakat, jarak Rumah masyarakat  terbilang jauh untuk menempuh ke masjid apalagi ketika musim hujan, jalan nya sukar untuk dilewati dan terkadang pula tidak bisa untuk melewati sungai ketika hujan deras datang. Juga  ekonomi masyarakat yang menjadi persoalan. Masyarakat hanya terfokus pada pekerjaan (bersawah dan menggembala kerbau) saja dan menghabiskan waktunya dari pagi sampai sore untuk bekerja hingga kebanyakan dari mereka yang tidak menjalankan kewajiban ibadahnya,” imbuhnya.

Minimnya akses infrastruktur dan juga fasilitas baik itu fasilitas masjid maupun teknologi informasi membuat penyebaran dakwah islam menjadi tidak merata. Pengaruh modernisasi dan kondisi ekonomi juga menjadi salah satu faktor kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap ilmu agama.

Meskipun demikian, banyak warga juga yang antusias ingin belajar untuk memperkuat pondasi keislaman mereka. Dengan adanya Dai Pedalaman kesadaran masyarakat tentang ibadah perlahan-lahan mulai terlihat. Banyak warga yang mendapatkan ilmu agama seperti cara berwudhu, sholat, mengaji, ceramah, azan, dan ilmu lainnya yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Tapi di sudut lain, kondisi yang memprihatinkan juga utarakan Ust Muammar. “Warga dusun Makmur mengalami kesulitan air untuk mengaliri perkebunannya sehingga banyak hasil panen yang gagal, ditambah lagi tidak ada akses jembatan penyambung untuk menghantarkan hasil panen mereka ke kampung sebelah, sehingga mereka hanya mengandalkan sungai untuk dilewati namun apabila musim hujan, jalanan tersebut tidak dapat dilewati. Inilah problem utama yang dirasakan oleh warga disini,” terang Muammar.

Melihat situasi ini, tentunya ini akan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa dikerjakan sendiri dan dalam waktu singkat. Butuh kerjasama, tekad, dan kesabaran dalam menyebarkan perintah Allah SWT.

Selain tantangan yang dihadapi selama proses dakwah, para dai juga melihat banyak peluang desa yang apabila dimaksimalkan bisa menjadi potensi desa yang besar. Mengingat hasil alam desa adalah penunjang bahan pokok di perkotaan. Jadi dai tidak hanya sebagai penyebar namun juga sebagai solusi problematika masyarakat. Sebagaimana tujuan dari program ini mampu berdaya berdasarkan local wisdom wilayah.

Disinfection Chamber Dompet Dhuafa Beroperasi di Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel

Disinfection Chamber Dompet Dhuafa Beroperasi di Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel


MAKASSAR –  Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan (DD Sulsel) menyerahkan bilik disinfeksi (disinfection chamber) ke Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan pada Jumat (3/4/2020) untuk dioperasikan di sana.

Dipilihnya Dinas Kesehatan Provinsi karena di sana merupakan Covid Centre yang menjadi tempat keluar masuk para wartawan, pegawai rumah sakit, dan tim gugus Covid-19 di Sulawesi Selatan. Sehingga, tempat ini sangat rentan.

Disinfection chamber dari Dompet Dhuafa Sulsel ini diterima oleh Agussalim SKM MKes, Kepala Seksi P2 Survailans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam proses serah terima, Agussalim mengucapkan terima kasih kepada Dompet Dhuafa atas pemasangan bilik disinfeksi tersebut.

“Bilik ini sangat penting untuk pencegahan Covid-19. Kami berharap, masyarakat Sulsel bisa mendukung program disinfection chamber dari Dompet Dhuafa Sulsel ini,” kata Agussalim.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan Rahmat HM, mengatakan bahwa bilik disinfeksi ini berfungsi untuk meminimalisasi bakteri atau virus yang menempel di badan atau pakain. Karena, menggunakan bahan antiseptik yang ramah untuk manusia. Meskipun demikian, lanjut Rahmat, bilik ini tidak menghilangkan kewajiban orang-orang untuk tetap cuci tangan agar benar-benar higienis.

Rahmat menambahkan, Dompet Dhuafa Sulsel akan terus berikhtiar meminimalisasi penyebaran virus Covid-19 di Sulawesi Selatan. Sejak awal pandemi Corona masuk ke Indonesia, Dompet Dhuafa membentuk Tim Cekal (Cegah Tangkal) Corona.

Pemasangan disinfection chamber gratis di berbagai area publik ini merupakan salah satu program sebagai upaya untuk mencegah dan menangkal penyebaran virus Corona.

“Alhamdulillah, dengan dukungan banyak pihak dan donator, kami bisa menjalankan program ini. Insyallah, Dompet Dhuafa akan terus meproduksi dan menempatkan bilik disenfeksi di fasilitas umum lainnya,” kata Rahmat.

Selain program pengadaan disinfection chamber, Dompet Dhuafa Sulsel telah menjalankan beberapa program untuk pencegahan dan penangkalan Covid-19 di Sulawesi Selatan, seperti sterilisasi fasilitas umum, pembagian hygiene kit, dan pembagian sembako untuk masyarakat yang terkena dampak Covid-19. 

Dompet Dhuafa dan Gerakan #GreenDakwah

Dompet Dhuafa dan Gerakan #GreenDakwah

MAKASSSAR – Dompet Dhuafa cabang Sulawesi Selatan pada hari Minggu (1/3) melakukan pelatihan dai lingkungan di Kantor Dompet Dhuafa cabang Sulawesi Selatan di Jalan Pettarani, Makassar.

Dalam pelatihan ini, para dai diberikan materi tentang kerusakan lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulsel, Muhammad Al Amin, selaku Direktur WALHI Sulsel, untuk memperkuat pengetahuan dai dan daiah tentang pentingnya meningkat pemahaman masyarakat tentang kerusakan lingkungan yang saat ini sedang terjadi.

Selain itu hadir juga Ustadz Juperta Panji Utama, General Manajer Program Dakwah dan Layanan Masyarakat Dompet Dhuafa yang memberikan motivasi kepada peserta dai agar selalu menciptakan inovasi dalam berdakwah.

Dalam kesempatan ini juga diluncurkan program #GreenDakwah sebagai usaha memasifkan kampanye lingkungan melalui ceramah agama di tengah masyarakat.

Menurut Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel, Rahmat HM, kelompok Dai Lingkungan dan gerakan #GreenDakwah ini diinisiasi oleh Dompet Dhuafa karena berbagai masukan dan kritik terhadap aktivitas dakwah para dai di masyarakat. Jadi kita berharap para dai juga ikut mengkampanyekan masalah lingkungan ini karena dampaknya sangat luas dan memiskinkan banyak masyarakat.

Pelatihan ini dihadiri oleh 20 dai dan daiah binaan Dompet Dhuafa dari berbagai kabupaten, antara lain Kota Makassar, Kab. Jeneponto, dan Kab. Gowa.

Copyright © 2026 DD Sulsel